Wednesday, February 22, 2012

Tips Meminimalkan Residu Pestisida Pada Sayur dan Buah



Kini makin banyak sayur dan buah yang mengalami pemupukan dan penyemprotan hama dan penyakit pada tanaman budidaya dengan pestisida. Sisa dan residu pestisida yang mengendap dalam buah dan sayur itulah yang lantas akan sampai ke dapur kita. Tentu berbahaya bagi kesehatan! Apalagi jika terakumilasi secara terus-menerus dan dalam waktu panjang. Solusinya memang bisa memilih produk pangan organik. Masalahnya, produk organik masih kurang di pasaran dan harganya pun lebih mahal. Jika sayur dan buah organik sulit didapat, sayur dan buah biasa tak perlu dimusuhi. Ini tipsnya!

Cuci sayur dan buah dengan air mengalir. Cara ini dapat mengurangi 20%-70% residu pestisida yang menempel, itu pun tergantung jenis pestisidanya.

Cuci bagian-bagian tanaman dengan detil, misalnya pada lipatan halus, tangkai bayam, serta gumpalan kuntum bunga kol dan brokoli.

Cuci dengan air mengalir. Tidak disarankan mencuci dengan direndam, karena racun yang telah larut dapat menempel kembali pada sayur dan buah. Sayangnya, pestisida sistemik, yaitu pestisida yang masuk melalui tanah, air atau udara lalu menyebar ke seluruh jaringan tanaman dan mengendap di daun atau bagian lain tanaman, tidak dapat hilang hanya dengan pencucian.

Cuci dengan sabun khusus food grade. Misalnya, Pigeon Liquid cleanser, Mama Lemon, Sunlight, Morning Fresh dan Sleek. Cara ini dapat mengurangi residu yang menempel, terutama jika pada kulit masih terdapat lilin (parafin) atau minyak yang menyerap partikel pestisida. Lapisan parafin yang tampak mengkilat ini dimaksudkan untuk mengurangi penguapan sehingga buah tidak cepat keriput. Setelah dicuci dengan sabun, sayur dan buah harus dibilas dengan baik agar tidak ada sisa sabun yang tertinggal.

Kupas kulit buah. Ini cara efektif menurunkan residu pestisida, jika kulit tersebut mampu menghambat pemindahan tempat atau translokasi zat racun ke jaringan lainnya.
Kupas kulit buah dengan pisau jangan digigit dengan gigi.
Tanaman umbi-umbian, seperti kentang, bawang, dan ubi juga perlu dikupas karena pestisida dapat masuk melalui tanah.

Buang lapisan luar sayur. Jangan segan membuang lapisan terluar dari sayuran yang berlapis-lapis, seperti selada, kol, dan sawi. Bagian terluar ini paling banyak terpapar pestisida.

Rendam dengan air panas. Cara ini efektif menurunkan residu 38%-97%, karena terjadi pelepasan dan penguraian pestisida ke dalam air dan uap air.

Rebus sayuran. Seperti halnya merendam dengan air panas, cara ini menurunkan residu pada sayuran jauh lebih rendah daripada bahan mentahnya, termasuk residu pestisida sistemik.

Dengan adanya pencucian pada sayur dan buah-buahan ini diharapkan para konsumen tetap bisa mendapatkan vitamin dan gizi yang terdapat pada sayur dan buah serta meminimalisir masuknya residu pestisida di tubuh.

Monday, February 6, 2012

Petani Tak Setuju Penepatan Pintu Masuk Bawang Impor

Sebagai daerah sentra penghasil bawang merah di Indonesia, petani dan pedagang di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tidak setuju terhadap penetapan empat pelabuhan sebagai pintu masuk bawang impor. Keempat titik itu, selama ini menjadi tempat pemasaran terbesar bawang lokal khususnya dari Brebes.

"Jika tetap dilaksanakan, justru semakin mendekatkan pasar bawang impor ke konsumen. Akibatnya, pemasaran bawang lokal akan tergusur dengan bawang impor yang membanjiri empat pintu masuk tersebut. Dampaknya, petani dan pedagang yang dirugikan. Mereka akan kesulitan memasarkan bawang ke luar pulau Jawa," kata Sekretaris Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Pusat, Juwari, Minggu 05 Februari 2012 di Brebes.
 Menurutnya, masuknya bawang impor secara jojoran ke Kabupaten Brebes, tidak hanya menyebabkan harga komoditas pertanian itu jatuh, namun berimbas juga munculnya hama dan penyakit tanaman baru seperti penyakit lulup yang kini menyerang sebagian besar tanaman. Akibatnya, petani gagal panen. Penyakit itu menyerang ke daun tanaman, kemudian mengering dan mati.
Penyakit itu diduga muncul akibat dibawa oleh bibit bawang impor yang masuk besar-besaran di tahun 2010 lalu. Saat itu petani yang menggunakan bibit bawang impor gagal panen. Di tahun 2011, kondisinya lebih mengkhawatirkan. Penyakit itu sudah mampu menyerang tanaman dengan bibit lokal. Hasil panen jelek, bahkan banyak yang gagal panen.
 "Parahnya lagi, hingga kini obat untuk mengatasi penyakit ini belum ada," tandas Juwari.
Karena itu, ABMI mendesak Menteri Pertanian untuk meninjau ulang Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 90 tahun 2011, tentang Pintu Masuk Bawang Impor.
 Permentan itu, dinilai ABMI semakin memberikan peluang bawang impor masuk Indonesia, dan mematikan pasaran bawang lokal, khususnya dari Brebes dan daerah sekitar.

FP : Brebes Kota Ku.

Sunday, February 5, 2012

Ayo Berbudidaya Terong!

Cara Budidaya Terong. Prospek budidaya tanaman terong makin baik untuk dikelola secara intensif dan komersial dalam skala agribisnis, namun hasil rata-ratanya masih rendah. Hal ini disebabkan bentuk kultur budidaya yang masih sampingan, belum memadainya informasi teknik budidaya di tingkat petani.

Deskripsi Terong
 Terong (Solanum melongena) merupakan tanaman setahun berjenis perdu yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 60-90 cm. Daun tanaman ini lebar dan berbentuk telinga. Bunganya berwarna ungu dan merupakan bunga yang sempurna, biasanya terpisah dan terbentuk dalam tandan bunga.

Manfaat Terong
 Buah terung sudah sangat dikenal masyarakat dan banyak digunakan sebagai lalap (sayuran segar) atau disayur. Hal ini disebabkan oleh rasa buah terung yang enak dan banyak mengandung vitamin.

Jenis -  Jenis Terong
 1. Terong Pipit atau Terong Lalap
 Biasa disebut terong mini karena ukurannya yang kecil. Bentuknya bulat, selain berwarna hijau, juga ada yang berwarna ungu. Umumnya dimakan sebagai lalapan dan biasa terhidang di menu masakan Sunda, seperti karedok (pecel dengan sayuran serba mentah).

 2. Terong Telunjuk
 Bentuknya panjang seperti telunjuk, dan lazim terdapat di menu masakan Sumatera. Misalnya, dimasak untuk bumbu gulai dengan campuran udang atau daging sapi serta disambal balado, dapat juga ditumis dengan tambahan tauco.

 3. Terong Ungu
 Jenis ini yang paling terkenal dari terong. Bentuknya beragam, ada yang bulat dan yang panjang. Jenis terong ungu dengan warna lebih tua dijuluki terong jepang karena sering digunakan pada kuliner Jepang, seperti tempura. Selain kering, rasanya juga renyah. Sementara yang warnanya tidak terlalu gelap, berkarakter lebih lunak. Ada juga yang berwarna hijau, dan biasa dimasukkan sebagai bahan sayur lodeh.

 4. Terong Belanda
 Bentuknya lonjong menyerupai telur namun lebih runcing ujungnya. Daging buahnya banyak mengandung sari buah, rasanya agak asam, berwarna agak hitam sampai kekuning-kuningan, kulit buah tipis. Sewaktu belum matang, warnanya kuning lalu berubah menjadi ungu ketika sudah matang. Bijinya bulat pipih, tipis dan keras. Berbeda dengan jenis terong lain, terong belanda ini biasa diolah menjadi jus.

Syarat Tumbuh Terong
 Terung sangat mudah dibiakkan karena ia dapat hidup di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi sekitar 1.200 m dpl. Namun demikian, tanah itu harus memiliki cukup banyak kandungan bahan organik dan berdrainase baik. Selain itu, pH tanah harus berkisar antara 5-6 agar pertumbuhannya optimal.
 - Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi
 - Suhu udara 22 – 300C
 - Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dan drainase baik dan pH antara 6,8-7,3
 - Sinar matahari harus cukup
 - Cocok ditanam musim kemarau

Pedoman Budidaya Terong
BENIH DAN PERSEMAIAN
 Benih terung sebaiknya disemaikan dulu sebelum ditanam pada lahan yang tetap. Pembuatan bedengan dan cara penyemaian terung tidaklah berbeda seperti perlakuan pada tomat. Hanya saja kebutuhan benih terung berbeda dengan benih tomat. Untuk lahan seluas 1 ha, diperlukan 500 g benih terung dengan daya kecambah 75070. Bibit terung berada di persemaian hingga berumur kurang lebih 1,5 bulan atau kira-kira telah berdaun empat helai. Setelah itu bibit terung sudah siap untuk dipindahkan di lahan penanaman.

PENANAMAN
 Lahan penanaman disiapkan dan diolah terlebih dahulu, kemudian di bentuk bedengan. Bedengan dibuat selebar antara 1,2 – 1,4 cm dan panjang sesuai lahan. Kemudian bedengan dibuatkan lubang tanam masing-masing berjarak sekitar 60 cm. Jarak antarbarisan lubang tanam 70-80 cm. Setiap bedengan memuat dua barisan tanaman. Di antara bedengan, haruslah dibuat parit yang berfungsi sebagai jalan dan pembuangan air saat musim hujan. Hal ini penting dilakukan karena terung tidak tahan genangan air. Selanjutnya setiap lubang tanam diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5-1 kg agar tanah cukup mengandung bahan organik. Setelah lahan disiapkan, sebaiknya bibit yang telah siap tanam dimasukkan secara tegak lurus ke dalam lubang tanam. Kemudian di sekitar lubang tanam disirami air agar tanah cukup lembap, tetapi tidak sampai tergenang.

Pemeliharaan Terong
 Setelah tanam, penyiraman dilakukan kembali setiap 3 hari sekali hingga saat berbunga. Ketika masa berbunga, penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Namun, apabila penanaman dilakukan pada daerah kering, maka penyiraman dapat dilakukan lebih sering agar tanaman tidak layu kekeringan. Pemupukan pada terung dilakukan tiga kali, yaitu sebagai pupuk dasar, susulan I, dan susulan II. Pupuk dasar diberikan saat tanah mulai diolah, pupuk susulan I diberikan 7 -14 hari sesudah tanam, dan pupuk susulan II diberikan saat tanaman mulai berbunga. Dosis pemupukan bervariasi untuk setiap jenis terung dan jenis tanahnya, lihat pada Tabel berikut.


WAKTU DAN DOSIS PEMUPUKAN TERUNG
 No Jenis pupuk Total Pupuk Dasar Pupuk susulan I II 1. Pupuk kandang 15 ton 15 ton 2. Urea 300 kg 100 kg 100 kg 100 kg 3. TSP 200 kg 200 kg 4. KCI 200 kg 200 kg Sumber : Rush Hukum, kk.,1990. Pemeliharaan selanjutnya seperti penyiangan dan pendangiran dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Namun, bila dirasa perlu, penyiangan dan pendangiran dapat dilakukan lebih sering. Tanaman terung memerlukan penyangga agar cabang lateralnya tidak raboh terkena angin atau hujan. Ajir dapat dibuat dari bambu atau kawat setinggi 60-90 cm.

Hama dan Penyakit Terong
HAMA APHIS (KUTU DAUN)
 Serangan hama ini ditandai dengan mengerutnya daun karena mengering. Daunnya berwarna kuning. Pemberantasannya umumnya dilakukan dengan Counter 50/1,8 SP dan Phoscormite 18 EC. Tungau (Tetranychus) Serangan hama ini ditandai dengan pertumbuhan tanaman terung menjadi abnormal. Daun pucuk atau tunas yang terserang berubah menjadi keriput dan berwarna kuning. Hama ini menyerang daun dan cabang muda dengan cara mengisap cairan dalam jaringan tanaman. Pengendalian serangan dilakukan dengan menggunakan Phoscormite 18 EC (0,5ml/liter) dan Nugor 400 EC (1ml/liter)

PENYAKIT KARAT DAUN
 Serangan penyakit ini ditandai dengan adanya bercak-bercak kuning (blight) dan kanker pada daun maupun -tanaman. Penyebabnya adalah Phomopsis vexans (Sacc & Syd) Harter atau Diaphote vexans Gratz. Penyakit ini sulit diberantas. Untuk itu, sebaiknya pada awal penanaman digunakan SAAF 75 WP ( 2gr/liter ).

BUSUK AKAR
 Serangan penyakit ini ditandai dengan warna daun menjadi lebih hijau, lalu menjadi kuning, dan akhirnya mati. Penyebabnya adalah cendawan Yerticilium alboatrum yang menyerang akar dan pembuluh pada jaringan tanaman. Pencegahan serangan selanjutnya dengan menggunakan SAAF 75 WP (2gr/liter). Sebenarnya penyakit ini dapat dikendalikan dengan perlakuan tanah, antara lain fumigasi, drainase yang baik, dan rotasi tanaman dengan tanaman selain jenis terung-terungan.

Panen dan Pasca Panen Terong

 Umur terung yang dapat dipanen tergantung dari varietas yang ditanam. Namun, secara umum terung dapat dipanen sekitar 4 bulan atau 90 hari sejak semai. Selanjutnya selang seminggu sekali, buah terung dapat dipanen 6-7 kali. Dalam pemanenan, diperhitungkan pula lama pengangkutan sampai ke tangan konsumen. Sebaiknya terung yang dipetik adalah buah muda yang bijinya belum keras dan daging buahnya belum liat. Apabila pengangkutan memerlukan waktu lama, maka sebaiknya terung dipetik sebelum masak, tapi sudah tampak bernas (berisi). Waktu panen sebaiknya dilakukan saat pagi hari atau sore hari. Hindari waktu panen saat terik matahari karena dapat mengganggu tanaman dan membuat kulit terung menjadi keriput (kering) sehingga menurunkan kualitas

Friday, February 3, 2012

Ayo Berbudidaya Timun!



Pengolahan Tanah
 1. Tanah diolah sampai gembur, misal dengan cangkul atau di bajak sedalam kurang lebih 20 cm
 2. Di buat bedengan dengan ukuran 80 X 300 cm
 3. Jarak antara bedengan 20 cm
 4. Di buat parit dengan kedalam 3 cm
 5. Penanaman
 • Penanaman dengan cara di tugal
 • Dalamnya lubang tugalan 5-7 cm dan jarak antara lubang (jarak tanam) 40x40 cm
 • Setiap lubang tugalan diisi dengan 2-3 biji, lalu di tutup dengan tanah (tapi jangan di padatkan) atau di tutup dengan abu sekam
 • Penanaman di laksanakan pada akhir musim hujan

Penggunaan Bibit Unggul
 Syarat benih yang baik di tanam;
 1. Bernas (berwarna mengkilap)
 2. Bebas dari serangan hama dan penyakit
 3. Tidak keriput dan basah
 4. Bersih ( tidak tercampur dengan biji rerumputan atau kotoran lain)
 5. Daya tumbuhnya lebih dari 90%
 6. Kecepatan tumbuhnya baik
 7. Kadar air 13-14%

Pemupukan
 1. Pupuk yang di gunakan berupa pupuk alam (kandang atau kompos), jika ada bisa pula dengan pupuk buatan (UREA, TSP dan KCL)
 2. Pupuk alam di berikan secara merata pada waktu pengolahan tanah
 3. Pupuk Urea sebanyak 75 Kg/ha, dimana 25 - 35 Kg diberikan pada saat tanam dan sisanya di berikan setelah penyiangan kesatu (15-20 hari)
 4. Pupuk TSP sebanyak 40 Kg/ha di berikan pada waktu tanam yang di sebar ara merata
 5. Pupuk KCL 20 kg/ha diberikan pada saat tanam

Pengairan atau irigasi
 1. Jika keadaan tanahnya kurang lembab, tanah perlu diairi, pengairannya sekedar membasahi tanah
 2. Cara mengairinya bisa dengan cara di leb (mengari petakan sebentar) atau memasukan air ke dalam saluran / parit sampai tanah cukup lembab
 3. Saat pemberian air di lakukan dengan sewaktu:
 4. Berkecambah umur (0-4 hari)
 5. Awal pertumbuhan Vegetatif (pertumbuhan batang dan daun) kurang lebih umur 15-20 hari
 6. Diairi 3 hari sekali

Pemberantasan gulma, hama dan penyakit
 1. Gulma
 Pemberantasan gulma di semprot dengan pertisida Weed Up 480 SL (hanya untuk memberantas biji rumput / rumput) di lakukan pada saat tanam dan saat berbunga.

 2. Hama
 a. Lalat Bibit
 • Pergiliran tanam dengan tanaman bukan mentimun
 • Menutup lubang tanaman dengan mulsa atau tanah
 • Biji mentimun di campur dengan insektisida (jika ada) misal dengan Furadan 3 G sebanyak 200 gram untuk setiap 1 Kg benih
 • Caranya biji mentimun langsung di campur dan di aduk rata dengan insektisida
 • Menyemprotkan insektisida pada saat tanaman berumur 7-8 hari setelah tanam, misal dengan Camacron 500 EC (2ml/liter).


 b. Kepik Hijau
 • Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan mentimun
 • Memusnahkan telur atau kepongpongnya
 • Disemprot dengan insektisida misalnya dengan Dursban 200 EC (2ml/liter), Imidagold 200 SL (1ml/liter), atau dengan Counter 50/1,8 SP (1gr/liter)  yang di lakukan pada saat tanaman berumur 20 hari setelah tanam

 3. Penyakit Karat daun
 Gejala:
 • Pada daun pertama terdapat bintik -bintik kecil, bintik - bintik akan menyatu menjadi bercak - bercak
 • Bercak akan berkembang / menular ke bagian daun atasnya sesuai bertambahnya umur tanaman
 • Bercak terutama banyak terdapat di bagian bawah daun dan warna bercak coklat (sperti karat.

 Pengendalian:
 • Tanaman yang terserang penyakit di cabut, kemudian di bakar
 • Menyemprotkan Fungisida SAAF 75 WP (2gr/liter) yang di lakukan mulai umur 20 hari dengan selang waktu 7 hari sampai tanaman berumur 30 hari di sertai pergiliran tanaman

Thursday, February 2, 2012

Ayo Budidaya Kangkung Darat Semi Organik!


Kangkung darat (Ipomoea sp.) dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi. Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputih-putihan merupakan sumber vitamin pro vitamin A. Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1) Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan, dan 2) Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah.


 Petanian organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat dilihat, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium. Pertanian organik dapat memberi perlindungan terhadap lingkungan dan konservasi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, memperbaiki kualitas hasil pertanian, menjaga pasokan produk pertanian sehingga harganya relatif stabil, serta memiliki orientasi dan memenuhi kebutuhan hidup ke arah permintaan pasar.
 Teknologi Budidaya
 1. Benih
                Kangkung darat dapat diperbanyak dengan biji. Untuk luasan satu hektar diperlukan benih sekitar 10 kg. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Sutra atau varietas lokal yang telah beradaptasi.
 2. Persiapan Lahan
                Lahan terlebih dahulu dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur, setelah itu dibuat bedengan membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya adalah 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomit.
 3. Pemupukan
                Bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam diberikan pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai pemupukan dasar tambahkan pupuk anorganik 150 kg/ha Urea (15 gr/m2) pada umur 10 hari setelah tanam. Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan disamping barisan tanaman, jika perlu tambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 1 dan 2 minggu setelah tanam.
 4. Penanaman
                Biji kangkung darat ditanam di bedengan yang telah dipersiapkan. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm, tiap lubang tanamkan 2 - 5 biji kangkung. Sistem penanaman dilakukan secara zigzag atau system garitan (baris).
 5. Pemeliharaan
                Yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan air, bila tidak turun hujann harus dilakukan
 penyiraman. Hal lain adalah pengendalian gulma waktu tanaman masih muda dan menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit.
 6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
                Hama yang menyerang tanaman kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura F), kutu daun (Myzus persicae Sulz) dan Aphis gossypii. Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang disebabkan oleh Albugo ipomoea reptans. Untuk pengendalian, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.
 7. Panen
 Panen dilakukan setelah berumur + 30 hari setelah tanam, dengan cara mencabut tanaman sampai akarnya atau memotong pada bagian pangkal tanaman sekitar 2 cm di atas permukaan tanah.
 8. Pasca Panen
 Pasca panen terutama diarahkan untuk menjaga kesegaran kangkung, yaitu dengan cara menempatkan kangkung yang baru dipanen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin.

Ayo Berbudidaya Bayam!


Bayam (Amaranthus sp) adalah salah satu jenis sayuran daun dari famili Amaranthaceae yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat, karena rasanya  enak,lunak, dapat memberikan rasa dingin dalam perut dan dapat memperlancar pencernaan. Cara memasak bayam sangat mudah, cukup memasukkan daun-daun bayam ke dalam air yang sedang mendidih selama kira-kira 3-5 menit.
 Bayam dapat direbus sebagai bahan pecal, gado-gado,bahkan dibuat keripik bayam, yaitu bayam dicelupkan kedalam adonan  tepung encer kemudian digoreng kering. Bayam banyak mengandung Vitamin dan garam-garam mineral penting yang diperlukan tubuh seperti ; kalori 36 kal, Protein 3,5 gr, Lemak 0,5 gr, Karbohidrat 6,5 gr, Kalsium 267 mg. Fosfor 67 mg, Besi 3,9 mg, Vitamin A 6.090 SI, Vitamin B1 0,08 mg, Vitamin C 80 mg, Air 86,9 gr dan bagian yang dapat dimakan 71 %.

 II.    Varietas / Kultivar
 Varietas / kultivar bayam yang biasa diusahakan oleh para petani seperti :
 a.    Bayam cabut (Amaranthus tricolor)
 Batangnya ada yang berwarna kemerah-merahan (bayam merah) dan ada yang berwarna keputih-putihan. Varietas yang banyak dibudidayakan baru 2 varietas yaitu Giti Hijau dan Giti Merah (bayam cabut).
 b.    Bayam tahun/sikap/kakap (Amaranthus hybridus).
 Varietas/kultivar ini biasanya mempunyai daun lebar, yang dipanen daun dan berikut cabangnya.

 III.    Tanah dan Iklim
 Bayam biasannya tumbuh sepanjang tahun baik didtaran rendah maupun dataran tinggi, suhu udara yang dikehendaki + 20 C - 32 C, derajat keasaman tanah (pH) 6-7. Tanaman ini memerlukan cukup banyak air, sehingga paling tepat ditanam pada awal musim penghujan  dan dapat ditanam pada awal musim kemarau yaitu pada tanah yang gembur dan cukup subur. Namun dapat juga tumbuh ditanah dengan tekstur liat, liat berpasir dan sebagainya dengan syarat harus diberi pupuk kandang yang cukup banyak.

 IV.    Pembibitan dan Penanaman   
 1.     Pembibitan
 Bayam diperbanyak dengan biji, tanpa persemaian. Kebutuhan benih bayam untuk 10 M2 bedengan = 10 gram yang berisi kira-kira 10.000 butir biji dengan takaran + 3 sendok the atau 1 kotak korek api. Benih dapat diperoleh dengan jalan memilih sejumlah tanaman yang pertumbuhannya sehat, kuat, tidak terserang hama dan penyakit. Benih yang telah dipanen dijemur sampai kering kemudian dirontokkan,
 Dibersihkan dan disimpan dalam kaleng lalu dibungkus kantong plastik kedap udara.

 2.    Pengolahan tanah
 Penggemburan tanah untuk bayam cabut dilakukan dengan mencangkul sedalam 20 cm sedang untuk bayam tahunan dicangkul lebih dalam lagi + 30 cm. Setelah tanah diratakan kamudian diberi pupuk kandang sebanyak + 10 ton/Ha atau 1 kg/m2.
                Bedengan dibuat 1 x 5 meter baik untuk bayam cabut maupun bayam tahun, diantara bedengan dibuat parit selebar + 30 cm untuk memudahkan penyiraman dan sekaligus berfungsi sebagai saluran drainase.
 3.    Pemupukan
 Pupuk kandang diberikan 1 minggu sebelum tanam, pupuk buatan perlu juga diberikan sebagai pupuk dasar. Jenisnya Urea, TSP/SP 36 dan KCI. Pemberian pupuk disebarkan dalam garitan + 5 cm di sebelah kanan dan kiri barisan.
 4.     Penanaman
 Sebelum benih disebar pada bedengan yang basah biji bayam harus dicampur dengan abu dapur yang kering dengan takaran 1 : 1. Benih disebarkan atau dideretkan dalam garitan, diatas suatu bedengan yang telah diberi cukup pupuk kandang. Jarak antar garitan 15-20 cm. Setelah benih dtebar ditutup dengan tanah tipis merata kemudian dilakukan penyiraman secara hati-hati. Benih mulai berkecambah pada hari ke 5.

 V.    Pemeliharaan
 1.    Penyiangan
 Penyiangan dilakukan pada saat tanaman berumur + 2 minggu, rumput  tanaman penggangu dicabut dan dibuang, lalu tanah disekitar batang tanaman digemburkan. Penyiangan berikutnya dilakukan setiap 2 minggu.

 2.    Penyiraman
 Penyiraman dilakukan dengan hati-hati dengan menggunkan gembor berlubang halus. Tanah dijaga agar tetap lembab tetapi tidak becek. Hal ini dilakukan terus-menerus hingga tanaman siap panen.

 3.    Penjarangan
 Penjarangan untuk bayam cabut dilakukan pada saat tanaman berumur 20, 25 dan 30 hari dengan mencabut tanaman yang sudah besar dan terlalu rapat. Penjarangan ini sekaligus merupakan pemanenan bayam tersebut. Proses penjarangan + 5 hari sekali, dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak tanaman yang tinggal.

 4.    Pengendalian organisme penggangu  tanaman
                Gangguan hama penyakit tidak banyak dijumpai, kecuali adanya kerusakan daun yang ditimbulkan oleh ulat daun. Gangguan serangan hama diatur dengan insektisida yang ada dipasaran dengan dosis sesuai aturan yang diberikan apabila dianggap sangat perlu. Hindarkan pemberian obat-obatan secara berlebihan. Pemberian obat-obatan ini dihentikan minimal 1 minggu menjelang pemanenan. Gangguan lain seperti rumput-rumput terutama rumput teki, lempuyangan dan gulma diberantas dengan dicabut.

 5.    Panen
 Proses penjarangan pada bayam cabut sekaligus merupakan pelaksanaan pemanenan hasil. Pemanenan dapat dilakukan berturut-turut pada umur 20,25 dan 30 hari dengan menyisakan beberapa tanaman yang tumbuhnya subur untuk menghasilkan benih.   
                Untuk bayam petik (bayam tahun) pemungutan hasil dilakukan dengan jalan  memetik pucuk-pucuk daun. Pemungutan hasil hasil dilakukan pada umur 3 minggu setelah tanam. Hasil yang diperoleh dengan cara cabutan sebanyak + 7kg/m2 atau 35 kg per bedengan (5 m2), sedangkan untuk yang dipanen daunnya (bayam tahun) hasil yang diperoleh diperkirakan 15 kg/ 5 m2.

Ayo Berbudidaya Tomat!


PENDAHULUAN

Tanaman tomat adalah salah satu jenis sayuran yang banyak digemari orang karena rasanya enak, segar dan sedikit asam. Mengandung banyak vitamin A, C dan sedikit vitamin B. Dan serbaguna untuk digunakan sebagai bumbu masak.

SYARAT TUMBUH
1. Dapat tumbuh baik pada tanah gembur, porous, kandungan bahan organik tinggi dengan pH tanah 5 - 6.
2. Umumnya ditanam di dataran tinggi, beberapa varietas unggul baru dapat ditanam di dataran rendah. Waktu tanam yang baik dua bulan sebelum musim hujan berakhir.

PENGOLAHAN TANAH
Tanah diolah dengan cangkul sedalam 30 - 40 cm dan kemudian dibuatkan bedengan dengan ukuran 100 - 400 cm. Pada bedengan dibuatkan lobang tanaman dengan jarak dalam barisan 50 - 60 cm dan jarak antara barisan 70 - 80 cm setiap lobang diberi pupuk kandang 0,5 - 1 kg atau ± 20 ton/ha.

PENANAMAN
1. Tomat diperbanyak dengan biji dengan jalan disemaikan lebih dahulu pada pesemaian. Pemindahan bibit ke lapang dilakukan sewaktu bibit berumur 1 bulan atau daunnya telah berjumlah 4 helai.
2. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Gondol, Intan, Ratna dan Berlian.
3. Kebutuhan benih 200 – 300 gram/ha.

PEMELIHARAAN
1. Pemupukan:
Pupuk yang digunakan untuk 1 Ha adalah urea 150 kg, TSP 100 kg dan KCL 50 kg. Pemupukan TSP dan KCL diberikan pada saat tanam dan urea diberikan 14 hari setelah tanam sebanyak 75 kg dan sisanya 35 hari setelah tanam.
2. Penyiangan:
Penyiangan dapat dilakukan dengan mencabut gulma menggunakan tangan atau alat penyiang lainnya.
3. Pemasangan ajir atau lanjaran Batang dan cabang diikat pada ajir atau lanjaran agar tidak menjalar di tanah.
4. Pengendalian hama dan penyakit:
- Hama ulat yang menyerang tanaman muda dengan memotong batang dan tangkai adalah Agrotis ipsilon dapat disemprot dengan Hostathion 400 EC, Brocel-D 28 EC  dan Dursban 200 EC. Hama Heliothis armigera yang menyerang buah menjadi bolong dapat diberantas dengan menggunakan Camacron 500 EC.
- Rhizoktonia sp dan Pythium sp yang menyerang pesemaian dapat diberantas dengan SAAF 75 WP. Penyakit busuk daun (Phytopthorasp) dapat diberantas dengan bubur bordeux. Penyakit layu dan virus keriting dikendalikan dengan mencabut tanaman yang terserang penyakit lalu dibakar.

P A N E N
- Panen pertama dilakukan setelah tanaman berumur 3 bulan sejak benih disebar.
- Penyimpanan buah dalam ruangan dengan suhu 10 - 150C dapat bertahan hingga 30 hari.

PENGOLAHAN
1. Pembuatan Saus.
- Buah tomat dicuci bersih, diiris kecil-kecil, direbus lalu disaring.
- Sari tomat lalu dicampur dengan gula pasir dan garam lalu direbus.
- Masukkan bumbu berupa bunga pala, lombok tanpa biji, merica, cengkeh, bawang merah, kayu manis.
- Setelah kental kemudian dimasukkan kedalam botol yang telah disterilkan.

2. Pembuatan Jam Tomat.
- Buah tomat dimasukkan kedalam air mendilih kemudian kulitnya dikupas
- Dimasukkan dengan melumatkannya, biarkan kental.
- Masukkan gula, aduk dan usahakan tidak gosong.
- Setelah masuk, bubuhkan air jeruk.
- Dalam keadaan panas masukkan kedalam botol yang sudah bersih.

3. Pembuatan Juice Tomat.
- Buah tomat dicuci bersih, diblansir lebih kurang 5 menit, kemudian direndam dalam air dingin.
- Buah tomat dihancurkan diatas saringan. Sari tomat ini dicampur dengan gula pasir dan dimasak sampai mendidih. Selanjutnya ditambah air yang sudah dimasak.
- Bila sudah masak siap untuk diminum atau dibotolkan.
- Untuk menambah daya simpan juice ini bisa ditambahkan sedikit Natrium Benzoat.