Showing posts with label Artikel Bawang Merah. Show all posts
Showing posts with label Artikel Bawang Merah. Show all posts

Monday, February 6, 2012

Petani Tak Setuju Penepatan Pintu Masuk Bawang Impor

Sebagai daerah sentra penghasil bawang merah di Indonesia, petani dan pedagang di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tidak setuju terhadap penetapan empat pelabuhan sebagai pintu masuk bawang impor. Keempat titik itu, selama ini menjadi tempat pemasaran terbesar bawang lokal khususnya dari Brebes.

"Jika tetap dilaksanakan, justru semakin mendekatkan pasar bawang impor ke konsumen. Akibatnya, pemasaran bawang lokal akan tergusur dengan bawang impor yang membanjiri empat pintu masuk tersebut. Dampaknya, petani dan pedagang yang dirugikan. Mereka akan kesulitan memasarkan bawang ke luar pulau Jawa," kata Sekretaris Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Pusat, Juwari, Minggu 05 Februari 2012 di Brebes.
 Menurutnya, masuknya bawang impor secara jojoran ke Kabupaten Brebes, tidak hanya menyebabkan harga komoditas pertanian itu jatuh, namun berimbas juga munculnya hama dan penyakit tanaman baru seperti penyakit lulup yang kini menyerang sebagian besar tanaman. Akibatnya, petani gagal panen. Penyakit itu menyerang ke daun tanaman, kemudian mengering dan mati.
Penyakit itu diduga muncul akibat dibawa oleh bibit bawang impor yang masuk besar-besaran di tahun 2010 lalu. Saat itu petani yang menggunakan bibit bawang impor gagal panen. Di tahun 2011, kondisinya lebih mengkhawatirkan. Penyakit itu sudah mampu menyerang tanaman dengan bibit lokal. Hasil panen jelek, bahkan banyak yang gagal panen.
 "Parahnya lagi, hingga kini obat untuk mengatasi penyakit ini belum ada," tandas Juwari.
Karena itu, ABMI mendesak Menteri Pertanian untuk meninjau ulang Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 90 tahun 2011, tentang Pintu Masuk Bawang Impor.
 Permentan itu, dinilai ABMI semakin memberikan peluang bawang impor masuk Indonesia, dan mematikan pasaran bawang lokal, khususnya dari Brebes dan daerah sekitar.

FP : Brebes Kota Ku.

Friday, January 20, 2012

Hormon Alami Perangsang Akar




                Pada umumnya hormon yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan akar adalah menggunakan hormon sintetik yang memang praktis dan instan digunakan karena biasanya sudah tersedia di toko pertanian, tapi mungkin jika kita dalam penggunaanya tidak banyak, apabila menggunakan hormon sintetik pasti banyak yang tersisa, maka bisa kita coba hormon yang alami yang bisa kita buat sendiri dirumah tanpa mengeluarkan banyak biaya, dan hormon alami yang bisa kita buat bisa menggunakan umbi bawang merah.
Pada intinya bawang merah mengandung hormon Auxin yang dapat merangsang pertumbuhan akar, seperti untuk merangsang pemercepatan tumbuhnya akar pada bahan stek, dan cangkok. Cara pembuatan ekstraknya adalah demikian :
*    Ambil beberapa umbi bawang merah yang sudah tua.
*    Cuci sampai bersih menggunakan air yang mengalir.
*    Kering anginkan umbi sampai kondisinya kering
*    Masukkan umbi ke dalam lumpang.
*    Tumbuklah sampai umbi-umbi tersebut hancur dan halus.
*    Peraslah hasil tumbukan tersebut seraya airnya disaring.
*    Ekstrak bawang merah yang sudah disaring dimasukkan ke dalam botol bersih.
*    Sementara ampasnya bisa dibuang.
*    Ekstrak bawang merah kemudian bisa langsung bisa dioleskan pada bagian yang nantinya akan mengeluarkan akar.



Sumber: Agrobis Edisi 845

Wednesday, January 18, 2012

Harga Bawang Merah Anjlok Aturan Impor Bawang Tanpa Daun Tak Lagi Dikdaya



Bawang merah hampir sebesar genggaman anak dari India tetap saja masuk ke Brebes, Jawa Tengah yang tengah panen bawang merah. Akibatnya harga bawang merah di Brebes anjlok tinggal Rp 4000/kg, padahal harga pokoknya Rp 5.500/kg.

Pengelola Koperasi Nusantara Jaya, Mudatsir mengatakan bawang merah impor dari India yang masuk ke Brebes adalah dari Jakarta. “Bawang merah India masuk dengan harga Rp 3.500/kg,” tambahnya kepada Sinar Tani.

Menteri Pertanian Suswono saat bertemu dengan para petani bawang merah di Brebes, Jawa Tengah mengatakan semestinya bawang merah dari India tidak akan bisa masuk ke Brebes, karena aturannya bawang merah untuk konsumsi hanya boleh diimpor bila tidak dengan daunnya. Dengan mekanisme itu, maka bawang merah yang dibawa dari India akan cepat busuk. “Kita khawatirkan bawang merah impor beserta daunnya menjadi pembawa penyakit,” jelas Suswono.

Kemungkinan bawang merah itu bisa masuk ke Brebes karena diselundupkan atau permainan pedagang agar bisa memperoleh bawang merah di Brebes dengan harga yang murah. “Saya duga kemungkinan besar bawang merah impor yang masuk ke Brebes adalah penyelundupan atau permainan,” kata Hari Purnama (Ipung) Ketua Gapoktan Bayan Urip Sejati Bulusari, Bulakamba, Brebes.

Sewa Helikopter
Mentan menambahkan bawang merah dengan daun impor hanya boleh masuk bila untuk bibit. Suswono menduga mungkin ada pedagang yang bisa memanfaatkan celah hukum ini atau melakukan penyelundupan. “Kita akan cari mekanisme lain, misalnya pelabuhan masuk bawang merah impor dari wilayah-wilayah yang jauh dari sentra produksi,” tuturnya.

Atau lanjut Suswono bila memang petani sudah bisa menyediakan bibit bawang merah tanpa harus impor, Kementan akan mengusulkan untuk menyetop impor bibit bawang merah.

Sumber Sinar Tani.

Tuesday, January 17, 2012

Aplikasi Feromon-Exi untuk Mengendalikan Ulat Bawang Merah (Spodoptera exigua)



               
Ulat Bawang Merah (Spodoptera exigua) merupakan hama endemik di sentra produksi bawang merah Kabupaten Brebes dengan tingkat serangan sangat tinggi.





Tindakan pengendalian yang biasa dilakukan petani adalah penyemprotan berbagai jenis insektisida yang dilakukan secara intensif setiap 3-4 hari. Hal ini dilakukan petani karena menurut beberapa petani jika hama ulat bawang merah tidak dikendalikan secara intensif dapat menurunkan hasil hingga 40%. Namun demikian, penyemprotan insektisida secara intensif meningkatkan biaya untuk pemeliharaan tanaman, yaitu pengendalian hama hingga 20-25%. Selain itu, penggunaan insektisida yang berlebihan juga dapat mencemari lingkungan.
                Teknologi alternatif baru yang lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan untuk mengendalikan ulat bawang merah adalah dengan menggunakan feromon. Feromon merupakan senyawa kimia yang digunakan serangga untuk berkomunikasi dalam satu spesies (sejenis). Feromon yang digunakan oleh serangga jantan dan betina dewasa pada saat kawin (kopulasi) disebut feromon seks. Feromon seks inilah kemudian oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen) dibuat sintetiknya dan dapat digunakan sebagai penarik ngengat jantan dewasa. BB-Biogen berhasil memformulasikan senyawa sintetik yang berperan sebagai feromon seks ulat bawang yang diberi nama Feromon-Exi.
                Selain Feromon-Exi, BB-Biogen juga berhasil mengembangkan Perangkap-Exi. Perangkap –Exi merupakan perangkap berferomon yang mampu menangkap dan membunuh serangga jantan. Perangkap-Exi sangat sederhana dan murah namun efektif mengendalikan hama ulat bawang merah, sehingga akan sangat terjangkau oleh petani.
                Jumlah Perangkap-Exi yang dipasang jika pemasangan dilakukan secara individu sekitar 20 unit/Ha. Jika pemasangan secara bersama-sama pada satu hamparan, jumlah Perangkap-Exi berkurang yaitu sekitar 10-12 unit/Ha.
                Hasil percobaan di sentra produksi bawang merah Brebes, Jawa Tengah pada tahun 2006, satu Perangkap-Exi mampu menangkap dan membunuh serangga jantan sekitar 400-500 ekor/malam. Dan setiap musim mampu menangkap dan membunuh serangga jantan hingga 125.000 ekor/Ha.
                Keberhasilan percobaan pengunaan Feromon-Exi mengendalikan ulat bawang merah di Brebes diadopsi dan diimplementasikan pada unit percontohan M-P3MI di Kabupaten Cirebon. Pada saat sosialisasi yang dilakukan oleh peneliti BB-Biogen, petani sangat antusias dan langsung tertarik untuk menerapkan inovasi tersebut di lahannya.
                Setelah disosialisasikan, kemudian praktek lapang pemasangan Perangkap-Exi pada unit percontohan M-P3MI, yaitu pada salh satu lahan anggota kelompok tani seluas 1 Ha. Jumlah Perangkap-Exi yang dipasang sebanyak 12 unit, sehingaa dalam satu hamparan unit percontohan (15Ha) akan dipasang sebanyak 180 unit.

                Praktek lapang dimaksudkan untuk meningkatkan dan mempercepat pemahaman petani tentang cara pemasangan Perangkap-Exi. Dengan demikian, petani tidak akan melakukan kesalahan pada saat mengaplikasikan Perangkap-Exi di lahannya masing-masing.

                Maka dari itu bisa di garis bawahi bahwa penggunaan Feromon-Exi ini memiliki beberapa kelebihan:
-Teknologi ini bersifat ramah lingkungan, tidak mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan.
-Bersifat selektif untuk spesies hama tertentu.
-Mampu menekan populasi serangga secara nyata.
-Biaya yang dialokasikan lebih murah. Sebagai perbandingan penggunaan perangkap lampu membutuhkan biaya sekitar 1-2 juta rupiah tiap hektarnya, belum termasuk tambahan biaya untuk penyemprotan insektisida. Sementara itu, penyemprotan insektisida secara intensif dapat memakan biaya hingga 6 juta rupiah.

                Sumber Sinar Tani edisi 13-19 Juli 2011 No. 3414 Tahun XLI (Hal. 15)

Wednesday, August 3, 2011

Ayo Budidaya Bawang Merah!



Bawang merah (Allium cepa) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat pokok dikalangan petani Brebes. Agar sukses budidaya bawang merah kita dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko) di lapangan. Diantaranya cara budidaya, serangan hama dan penyakit, kekurangan unsur hara makro maupun mikro, dll yang menyebabkan produksi menurun. Memperhatikan hal tersebut, kami berupaya membantu penyelesaian permasalahan tersebut. Salah satunya dengan peningkatan produksi bawang merah secara kuantitas, kualitas dan kelestarian, sehingga petani dapat berkarya dan berkompetisi di era perdagangan bebas.
A. PRA TANAM
1. Syarat Tumbuh

Bawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, tekstur sedang sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol, pH 5.6 - 6.5, ketinggian 0-400 mdpl, kelembaban 50-70 %, suhu 25-32 C

2. Pengolahan Tanah
Pupuk kandang / kompos disebarkan di lahan dengan dosis 0,5-1 ton/ 1000 m2
Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
Dibuat bedengan dengan lebar 120 -180 cm
Diantara bedengan pert
anaman dibuat saluran air (selokan) dengan lebar 40-50 cm dan kedalaman 50 cm.
Apabila pH tanah kurang dari 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan tanah lalu biarkan 2 minggu.

3. Pupuk Dasar
Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA + 15-25 kg SP-36 secara merata diatas bedengan dan diaduk rata dengan tanah.
Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di bedengan,Biarkan selama 5 - 7 hari.

4. Pemilihan Bibit
- Ukuran umbi bibit y
ang optimal adalah 3-4 gram/umbi.
- Umbi bibit yang baik yang telah disimpan kurang lebih 2 bulan dan umbi masih dalam ikatan (umbi masih ada daunnya)
- Umbi bibit harus sehat, ditandai dengan bentuk umbi yang kompak (tidak keropos), kulit umbi tidak luka (tidak terkelupas atau berkilau)

B. FASE TANAM

1. Jarak Tanam
Pada Musim Kemarau, 15 x 15 cm, varietas Ilocos, Tadayung atau Bangkok
Pada Musim Hujan 20 x 15 cm varietas Tiron

2. Cara Tanam
Sebelum ditanam potong pucuk umbi sebanyak sepertiga dari ukuran umbi, dan bibit dikoleh dengan fungisida untuk mencegah serangan penyakit, bisa menggunakan SAAF 75 WP sebanyak 100-200 gr untuk 1 kwintal bibit.
Pada saat tanam, bagian umbi bibit yang telah siap tanam dibenamkan ke dalam permukaan tanah tetapi pucuk umbi usahakan jangan tertutup tanah. Untuk tiap lubang ditanam satu buah umbi bibit.

C. AWAL PERTUMBUHAN ( 0 - 10 HST )
1. Pengam
atan Hama
Was
padai hama Ulat Bawang ( Spodoptera exigua atau S. litura), telur ulat terletak pada pangkal dan ujung daun bawang merah secara berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang putih seperti kapas.
Kelompok telur yang ditemukan pada rumpun tanaman hendaknya diambil dan dimusnahkan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dengan insektisida dengan bahan aktif alfa sipermetrin atau methomil ( bisa menggunakan VALIANT 50 EC dan LANNATE 45 WP) . Biasanya pada bawang lebih sering terserang ulat grayak jenis Spodoptera exigua dengan ciri tubuh berwarna hijau muda dan ukuran ulat dewasa sekitar 2cm dan bulat tersebut lebih sering berada pada dalam daun, dikendalikan dengan insektisida berbahan aktif klorfenapir atau imidakloprid (bisa menggunakan RAMPAGE 100 EC dan COUNTER 50/1,8 SP).
Ulat tanah . Ulat ini berwarna coklat-hitam. Pada bagian pucuk /titik tumbuhnya dan tangkai kelihatan rebah karena dipotong pangkalnya. Kumpulan ulat pada senja/malam hari. Jaga kebersihan dari sisa-sisa tanaman atau rerumputan yang jadi sarangnya. Semprot dengan parakuat atau sejenisnya.
Penyakit yang harus diwaspadai pada awal pertumbuhan adalah penyakit layu Fusarium. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu dengan cepat (Jawa : ngoler). Tanaman yang terserang dicabut lalu dibuang atau dibakar di tempat yang jauh. Preventif kendalikan dengan fungisida berbahan aktif pyraclostrobin atau sejenisnya.

2. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 HST dan dilakukan secara mekanik untuk membuang gulma atau tumbuhan liar yang kemungkinan dijadikan inang hama ulat bawang. Pada saat penyiangan dilakukan pengambilan telur ulat bawang

Dilakukan pendangiran, yaitu tanah di sekitar tanaman didangir dan dibumbun agar perakaran bawang merah selalu tertutup tanah. Selain itu bedengan yang rusak atau longsor perlu dirapikan kembali dengan cara memperkuat tepi-tepi selokan dengan lumpur dari dasar saluran (di Brebes disebut melem).

3. Pemupukan pemeliharaan/susulan
Dosis pemupukan bervariasi tergantung jenis dan kondisi tanah setempat. Jika kelebihan Urea/ZA dapat mengakibatkan leher umbi tebal dan umbinya kecil-kecil, tapi jika kurang, pertumbuhan tanaman terhambat dan daunnya menguning pucat. Kekurangan KCl juga dapat menyebabkan ujung daun mengering dan umbinya kecil.

Pemupukan dilakukan 2 kali
( dosis per 1000 m2 ) :
- 2 minggu : 5-9 kg Urea+10-20 kg ZA+10-14 kg KCl
- 4 minggu : 3-7 kg Urea+ 7-15 kg ZA+12-17 kg KCl
Campur secara merata ketiga jenis pupuk tersebut dan aplikasikan di sekitar rumpun atau garitan tanaman. Pada saat pemberian jangan sampai terkena tanaman supaya daun tidak terbakar dan terganggu pertumbuhannya.
Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 diberikan pada umur ± 2 minggu.

4. Pengairan
Pada awal pertumbuhan dilakukan penyiraman dua kali, yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman pagi hari usahakan sepagi mungkin di saat daun bawang masih kelihatan basah untuk mengurangi serangan penyakit. Penyiraman sore hari dihentikan jika persentase tanaman tumbuh telah mencapai lebih 90 %
Air salinitas tinggi kurang baik bagi pertumbuhan bawang merah
Tinggi permukaan air pada saluran ( canal ) dipertahankan setinggi 20 cm dari permukaan bedengan pertanaman

D. FASE VEGETATIF ( 11- 35 HST )
1. Pengamatan Hama dan Penyakit
Hama Ulat bawang, Spodoptera exigua
Thrips, mulai menyerang umur 30 HST karena kelembaban di sekitar tanaman relatif tinggi dengan suhu rata-rata diatas normal. Daun bawang yang terserang warnanya putih berkilat seperti perak Serangan berat terjadi pada suhu udara diatas normal dengan kelembaban diatas 70%. Jika ditemukan serangan, penyiraman dilakukan pada siang hari, amati predator kumbang macan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dengan insektisida berbahan aktiv asefat dan imidakloprid bisa menggunakan COUNTER 50/1,8 SP.
Belalangan / orong-orong. hama satu ini menyerang pada pangkal umbi, merusak dengan cara melubang-lubangi umbi, sehingga pertumbuhan pun akan terhambat dan terhenti bisa dikendalikan menggunakan insektisida berbahan aktif beta siflutrin atau klorpirifos ( bisa menggunakan LOTSA 50 EC dan AMICHLOR 400 EC.)

Penyakit Bercak Ungu atau Trotol, disebabkan oleh jamur Alternaria porii melalui umbi atau percikan air dari tanah. Gejala serangan ditandai terdapatnya bintik lingkaran konsentris berwarna ungu atau putih-kelabu di daun dan di tepi daun kuning serta mongering ujung-ujungnya. Serangan pada umbi sehabis panen mengakibatkan umbi busuk sampai berair dengan warna kuning hingga merah kecoklatan. Jika ada hujan rintik-rintik segera dilakukan penyiraman. Preventif dengan fungisida
dan bisa dikendalikan dengan NAZOLE 50 SC .

Penyakit Antraknose atau Otomotis, disebabkan oleh jamur Colletotricum gloesporiodes. Gejala serangan adalah ditandai terbentuknya bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan yang akan menyebabkan patahnya daun secara serentak (istilah Brebes: otomatis). Jika ada gejala, tanaman terserang segera dicabut dibakar dan dimusnahkan. Untuk jamur yang ada didalam tanah kendalikan dengan fungisida berbahan aktif karbendazim atau mancozeb bisa menggunakan SAAF 75 WP.

Penyakit oleh virus.
- Gejalanya pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke segala arah dan terkulai serta anakannya sedikit. Usahakan memakai bibit bebas virus dan pergiliran tanaman selain golongan bawang-bawangan.

Busuk umbi oleh bakteri.
- Umbi yang terserang jadi busuk dan berbau. Biasa menyerang setelah dipanen. Usahakan tempat yang kering.
- Busuk umbi/ leher batang oleh jamur.
- Bagian yang terserang jadi lunak, melekuk dan berwarna kelabu. Jaga agar tanah tidak terlalu becek (atur drainase).
- Untuk pencegahan hama-penyakit usahakan pergiliran tanaman dengan jenis tanaman lain (bukan golongan Bawang-bawangan. PESTISIDA Kimia digunakan sebagai alternatif terakhir untuk mengatasi serangan hama-penyakit.


E. PEMBENTUKAN UMBI ( 36 - 50HST )
Pada fase pengamatan HPT sama seperti fase Vegetatif, yang perlu diperhatikan adalah pengairannya. Butuh air yang banyak pada musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman sehari dua kali yaitu pagi dan sore hari.

F. PEMATANGAN UMBI ( 51- 65 HST )
Pada fase ini tidak begitu banyak air sehingga penyiraman hanya dilakukan sehari sekali yaitu pada sore hari.

G. PANEN DAN PACA PANEN
1. Panen
> 60-90 % daun telah rebah, dataran rendah pemanenan pada umur 55-70 hari, dataran tinggi umur 70 - 90 hari.
> Panen dilakukan pada pagi hari yang cerah dan tanah tidak becek
> Pemanenan dengan pencabutan batang dan daun-daunnya. Selanjutnya 5-10 rumpun diikat menjadi satu ikatan (Jawa : dipocong)

2. Pasca Panen
- Penjemuran dengan alas anyaman bambu (Jawa : gedeg). Penjemuran pertama selama 5-7 hari dengan bagian daun menghadap ke atas, tujuannya mengeringkan daun. Penjemuran kedua selama2-3 hari dengan umbi menghadap ke atas, tujuannya untuk mengeringkan bagian umbi dan sekaligus dilakukan pembersihan umbi dari sisa kotoran atau kulit terkelupas dan tanah yang terbawa dari lapangan. Kadar air 89 85 % baru disimpan di gudang.
- Penyimpanan, ikatan bawang merah digantungkan pada rak-rak bambu. Aerasi diatur dengan baik, suhu gudang 26-290C kelembaban 70-80%, sanitasi gudang.

Wednesday, November 10, 2010

Budidaya Bawang Merah (Brambang) Secara Vertikultur


Vertikultur, Solusi Bertani di Lahan Sempit
Dengan cara bertanam berjenjang (verticulture) bukan halangan petani untuk bercocok tanam.

IR HM. SUHADI dengan tanaman bawang merah yang ditanam berjenjang (Ikhsan Mahmudi | Surabaya Post)
http://jatim.vivanews.com/news/read/162902-vertikultur--solusi-bertani-di-lahan-sempit


SURABAYA POST - Sempitnya lahan pertanian sering menjadi alasan petani enggan bercocok tanam. Padahal dengan cara bertanam berjenjang (verticulture) seperti yang dilakukan Suhadi, pengusaha agrobinis dan petani di Kota Pasuruan, lahan terbatas bukan halangan bertani.

“Terus terang saya bukan penemu cara bercocok tanam model vertikultur. Saya hanya ingin memperkenalkan vertikultur dan mengajak masyarakat di kota untuk gemar bercocok tanam walaupun di lahan sempit di halaman rumah,” ujar Suhadi ditemui di Tegalbero Camp miliknya di Tegalbero, Kel. Wirogunan, Kota Pasuruan.

Tegalbero Camp merupakan model pertanian terpadu yang mewadahi perkebunan, pertanian, perikanan, dan peternakan (buntaninak). Melalui Lembaga Pengembangan Kewirausahaan (LPK), Suhadi menggarap lahan Tegalbero Camp seluas sekitar 2,5 hektare, yang terletak sekitar 1 km di pinggiran Kota Pasuruan.

“Saya ingin Tegalbero Camp ini menjadi model pertanian terpadu yang bisa diikuti warga kota termasuk bagaimana cara bertanam di lahan sempit dengan vertikultur,” ujar alumnus jurusan agronomi, Fakultas Pertanian (FP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Suhadi mengakui, sejumlah petani bergidik menyaksikan model pertanian vertikultur. “Dikira biayanya mahal, padahal sebenarnya murah karena media tanam bisa dipakai berkali-kali panen,” ujarnya.

Suhadi bersama sejumlah petani mencoba bertanam ala vertikultur di bawah naungan rumah kaca (green house) sederhana. Green house berukuran 10 x 10 meter persegi itu ditutup dengan kelambu plastik warna hitam.

Di dalamnya terdapat 300 tonggak dari batang paralon setinggi masing-masing 2 meter. “Satu lonjor paralon PVC ukuran talang rumah panjangnya 4 meter dipotong jadi dua bagian,” ujar mantan aktivis mahasiswa itu.

Sebatang tonggak (paralon) itu kemudian dilubangi menjadi 120 lubang dengan ukuran diameter 10 cm. Dari sini mulai diketahui biaya awal yakni, sebatan paralon (4 meter) sekitar Rp 35 ribu. “Yang jelas harga satu tonggak plus biaya melubanginya sekitar Rp 20 ribu,” ujarnya.

Setelah itu patok-patok itu diisi dengan media tanam berupa campuran abu batu, arang batok kelapa, dan pupuk kandang. Di bagian tengah tonggak diisi paralon kecil seukuran 0,5 dim yang bersambung ke selang plastik seukuran selang infus.

“Air bercampur nutrisi atau pupuk kemudian dialirkan dalam tonggak melalui selang plastik yang biasa digunakan untuk akuarium itu,” ujarnya.

Prinsipnya, pengairan harus rutin dan merata menuju pangkal tanaman.
Menurut Suhadi, kondisi tanah harus berporos, tidak boleh padat mengeras.

Sejumlah jenis tanaman seperti bawang merah, tomat, lombok, hingga sawi bisa ditanam di lubang-lubang pada tonggak paralon. Sudah beberapa kali ia menanam tomat, lombok, dan bawang merah. “Saya bisa memanen bawang merah seberat 4 kilogram dalam satu tonggak,” ujarnya.

Dengan harga bawang merah sekitar Rp 15 ribu/kg, berarti satu tonggak menghasilkan Rp 60 ribu/tonggak. “Dengan biaya paralon Rp 20 ribu per tonggak ditambah biaya pupuk dan perawatan, pendapatan Rp 60 ribu per tonggak masih untung lumayan. Padahal saya menanam 300 tonggak,” ujarnya.

Suhadi mengakui, umbi bawang merah yang ditanam di paralon tidak sebesar kalau ditanam di tanah. Tetapi umbi bawang merah ala vertikultur itu lebih keras, bahkan saat kering pun tidak susut.

Sejumlah warga mulai tertarik mengikuti jejak Suhadi bertanam ala vertikultur. “ Ada prajurit Yon Zipur yang datang ke sini kemudian mencoba bertanam, demikian juga sejumlah warga,” ujarnya.

Memang ada sebagian warga yang datang langsung bergidik begitu mengetahui peralatan dan media tanam vertikultur. “Pipa paralon kan murah, bisa dipakai menanam berkali-kali. Untuk pengairan bisa menggunakan botol plastik air minum yang diletakkan di ketinggian, tanaman diperlakukan seperti pasien yang diinfus,” ujar Suhadi.

Suhadi pun mengaku banyak mempelajari vertikultur melalui internet, buku, dan majalah. “Di Jepang karena kesulitan lahan, vertikultur di atap gedung. Paralon pun bisa diganti kaleng cat tembok yang disusun ke atas,” ujarnya.

Bahkan ada warga yang nekat mengganti paralon dengan besek (plastik) untuk wadah berkat kenduri. “Ada juga pabrik rokok yang menggantikan paralon dengan plastik tipis, tentu saja gampang robek,” ujarnya.

Bertanam ala vertikultur pun memikat banyak pihak, paling tidak untuk mencoba. “Ada dinas yang meminjam tonggak paralon untuk pameran, ada Pramuka yang pinjam untuk lomba lalu jadi juara di tingkat propinsi,” ujar Suhadi. Anda berminat?