Wednesday, November 10, 2010

Budidaya Bawang Merah (Brambang) Secara Vertikultur


Vertikultur, Solusi Bertani di Lahan Sempit
Dengan cara bertanam berjenjang (verticulture) bukan halangan petani untuk bercocok tanam.

IR HM. SUHADI dengan tanaman bawang merah yang ditanam berjenjang (Ikhsan Mahmudi | Surabaya Post)
http://jatim.vivanews.com/news/read/162902-vertikultur--solusi-bertani-di-lahan-sempit


SURABAYA POST - Sempitnya lahan pertanian sering menjadi alasan petani enggan bercocok tanam. Padahal dengan cara bertanam berjenjang (verticulture) seperti yang dilakukan Suhadi, pengusaha agrobinis dan petani di Kota Pasuruan, lahan terbatas bukan halangan bertani.

“Terus terang saya bukan penemu cara bercocok tanam model vertikultur. Saya hanya ingin memperkenalkan vertikultur dan mengajak masyarakat di kota untuk gemar bercocok tanam walaupun di lahan sempit di halaman rumah,” ujar Suhadi ditemui di Tegalbero Camp miliknya di Tegalbero, Kel. Wirogunan, Kota Pasuruan.

Tegalbero Camp merupakan model pertanian terpadu yang mewadahi perkebunan, pertanian, perikanan, dan peternakan (buntaninak). Melalui Lembaga Pengembangan Kewirausahaan (LPK), Suhadi menggarap lahan Tegalbero Camp seluas sekitar 2,5 hektare, yang terletak sekitar 1 km di pinggiran Kota Pasuruan.

“Saya ingin Tegalbero Camp ini menjadi model pertanian terpadu yang bisa diikuti warga kota termasuk bagaimana cara bertanam di lahan sempit dengan vertikultur,” ujar alumnus jurusan agronomi, Fakultas Pertanian (FP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Suhadi mengakui, sejumlah petani bergidik menyaksikan model pertanian vertikultur. “Dikira biayanya mahal, padahal sebenarnya murah karena media tanam bisa dipakai berkali-kali panen,” ujarnya.

Suhadi bersama sejumlah petani mencoba bertanam ala vertikultur di bawah naungan rumah kaca (green house) sederhana. Green house berukuran 10 x 10 meter persegi itu ditutup dengan kelambu plastik warna hitam.

Di dalamnya terdapat 300 tonggak dari batang paralon setinggi masing-masing 2 meter. “Satu lonjor paralon PVC ukuran talang rumah panjangnya 4 meter dipotong jadi dua bagian,” ujar mantan aktivis mahasiswa itu.

Sebatang tonggak (paralon) itu kemudian dilubangi menjadi 120 lubang dengan ukuran diameter 10 cm. Dari sini mulai diketahui biaya awal yakni, sebatan paralon (4 meter) sekitar Rp 35 ribu. “Yang jelas harga satu tonggak plus biaya melubanginya sekitar Rp 20 ribu,” ujarnya.

Setelah itu patok-patok itu diisi dengan media tanam berupa campuran abu batu, arang batok kelapa, dan pupuk kandang. Di bagian tengah tonggak diisi paralon kecil seukuran 0,5 dim yang bersambung ke selang plastik seukuran selang infus.

“Air bercampur nutrisi atau pupuk kemudian dialirkan dalam tonggak melalui selang plastik yang biasa digunakan untuk akuarium itu,” ujarnya.

Prinsipnya, pengairan harus rutin dan merata menuju pangkal tanaman.
Menurut Suhadi, kondisi tanah harus berporos, tidak boleh padat mengeras.

Sejumlah jenis tanaman seperti bawang merah, tomat, lombok, hingga sawi bisa ditanam di lubang-lubang pada tonggak paralon. Sudah beberapa kali ia menanam tomat, lombok, dan bawang merah. “Saya bisa memanen bawang merah seberat 4 kilogram dalam satu tonggak,” ujarnya.

Dengan harga bawang merah sekitar Rp 15 ribu/kg, berarti satu tonggak menghasilkan Rp 60 ribu/tonggak. “Dengan biaya paralon Rp 20 ribu per tonggak ditambah biaya pupuk dan perawatan, pendapatan Rp 60 ribu per tonggak masih untung lumayan. Padahal saya menanam 300 tonggak,” ujarnya.

Suhadi mengakui, umbi bawang merah yang ditanam di paralon tidak sebesar kalau ditanam di tanah. Tetapi umbi bawang merah ala vertikultur itu lebih keras, bahkan saat kering pun tidak susut.

Sejumlah warga mulai tertarik mengikuti jejak Suhadi bertanam ala vertikultur. “ Ada prajurit Yon Zipur yang datang ke sini kemudian mencoba bertanam, demikian juga sejumlah warga,” ujarnya.

Memang ada sebagian warga yang datang langsung bergidik begitu mengetahui peralatan dan media tanam vertikultur. “Pipa paralon kan murah, bisa dipakai menanam berkali-kali. Untuk pengairan bisa menggunakan botol plastik air minum yang diletakkan di ketinggian, tanaman diperlakukan seperti pasien yang diinfus,” ujar Suhadi.

Suhadi pun mengaku banyak mempelajari vertikultur melalui internet, buku, dan majalah. “Di Jepang karena kesulitan lahan, vertikultur di atap gedung. Paralon pun bisa diganti kaleng cat tembok yang disusun ke atas,” ujarnya.

Bahkan ada warga yang nekat mengganti paralon dengan besek (plastik) untuk wadah berkat kenduri. “Ada juga pabrik rokok yang menggantikan paralon dengan plastik tipis, tentu saja gampang robek,” ujarnya.

Bertanam ala vertikultur pun memikat banyak pihak, paling tidak untuk mencoba. “Ada dinas yang meminjam tonggak paralon untuk pameran, ada Pramuka yang pinjam untuk lomba lalu jadi juara di tingkat propinsi,” ujar Suhadi. Anda berminat?

Tuesday, September 28, 2010

Pembenihan

A. Pemungutan/Pengumpulan Benih
Kegiatan pemungutan benih tidak kalah pentingnya dengan pemilihan sumber benih,
karena bila pemungutan benih dilakukan dengan tidak benar maka akan diperoleh benih
dengan mutu yang jelek. Semua usaha yang dilakukan untuk mencari sumber benih yang baik
akan percuma bila pengumpulan benih tidak dilakukan dengan cara yang benar. Untuk itu
perlu juga adanya suatu regu khusus untuk pengambilan benih karena pekerja kontrak
biasanya kurang memperhatikan mutu benih mereka hanya melihat jumlahnya saja. Berikut
ini diterangkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan dalam kegiatan
pengumpulan benih.
1. Yang perlu dilakukan sebelum benih dikumpulkan
• Tentukan waktu pengumpulan benih. Setiap jenis pohon memiliki masa berbuah
tertentu untuk itu mengetahui masa berbunga atau berbuah perlu dilakukan sehingga
waktu panen yang tepat dapat ditentukan dengan tepat pula. Tanda-tanda buah masak
perlu diketahui sehingga buah yang dipetik cukup masak (masak fisiologis).
• Siapkan alat yang dibutuhkan untuk pengumpulan benih
D

2. Cara pengumpulan benih
Benih yang dikumpulkan dipermukaan tanah
Benih yang dikumpulkan dipermukaan tanah seringkali mutunya tidak sebaik yang
dikumpulkan langsung dari pohon, benih akan hilang daya kecambahnya jika terkena sinar
matahari (benih yang rekalsitran), benih akan terserang hama/penyakit dan benih yang
berkecambah.
Benih yang dikumpulkan langsung dari pohon.
Pengambilan dengan cara ini yaitu, benih yang sudah masak dipetik langsung dengan
bantuan galah/tangga, cabang yang jauh dapat ditarik dengan tali/kait kayu.
Pengambilan juga dapat dilakukan dengan cara diguncang. Pengambilan dengan cara ini
dapat menggunakan terpal/ plastik untuk menampung benih yang jatuh.
Mutu benih yang dikumpulkan dengan cara ini sangat baik, karena dapat memilih buah
yang betul-betul matang. Setelah benih dikumpulkan dimasukkan kedalam wadah untuk
dibawah ketempat pengolahan.
3. Beri label identitas
Setiap wadah berisi buah / polong harus diberi label agar identitas benih tetap
diketahui.
4. Penyimpanan sementara
Bila tidak mungkin untuk untuk langsung mengekstrasi biji, simpanlah wadah yang
berisi buah/polong ditempat yang kering dan dingin dengan ventilasi udara yang baik. Jangan
meletakkan wadah langsung dilantai, tetapi beri alas kayu sehingga memungkinkan peredaran
udara dibawah wadahya, dengan demikian bagian bawahnya tidak lembab.
B. Penanganan Benih Setelah Dikumpulkan
Penanganan benih harus dilakukan dengan baik, agar mutu benih dapat dipertahankan.
Kegiatan penanganan benih meliputi : Sortasi buah/polong, ekstrasi benih, pembersihan
benih, sortasi benih, pengeringan benih.
Panitia Implementasi Program NFP-FAO Regional Maluku & Maluku Utara
Pelatihan Penanaman Hutan di Maluku & Maluku Utara – Ambon, 12 – 13 Desember 2007 3
a. Sortasi buah/ polong
Sortasi buah/ polong merupakan kegiatan pemisahan buah/polong yang susah
masak dari yang belum/kurang masak, kemudian dimasukkan kedalam wadah yang
terpisah.
b. Ekstrasi benih
Ekstrasi benih adalah proses pengeluaran benih dari buahnya/polongnya. Cara
ekstrasi berbeda-beda tergantung dari jenis pohon, dapat dilakukan dengan bantuan
alat dan harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan benih.
• Benih dari buah berdaging
Buah yang berdaging dibuang pericarp buahnya dengan cara merendam buah
tersebut dalam air, sehingga daging buahnya mengembang sedang bijinya
mengendap.
• Benih dari buah kering
Benih dijemur dipanas matahari, contohnya : polong-polongan dari Leguminoceae,
kerucut dari Coniferae, capsule dari Eucaliptus, dsb. Sehingga terbuka.
c. Pembersihan dan sortasi benih
Benih yang sudah diekstrasi masih mengandung kotoran berupa sekam, sisa
polong, ranting, sisa sayap, daging buah, tanah dan benih yang rusak, harus dibuang
untuk meningkatkan mutunya. Ada dua cara sederhana untuk membersihkan benih
yaitu:
1). Cara sederhana : manual dengan tampi/nyiru atau menggunakan saringan.
2). Cara mekanis : menggunakan alat peniup benih (seed blower)
setelah pembersihan jika dirasa perlu dilakukan sortasi benih untuk memilih benih
sesuai dengan ukuran.

d. Pengeringan benih
Benih yang baru diekstrasi biasanya mengandung kadar air yang cukup tinggi,
untuk itu perlu dikeringkan sebelum benih-benih itu disimpan (tetapi tidak semua
benih biasa dikeringkan).
Kadar air untuk masing-masing benih berbeda-beda, misalnya ada benih-benih
yang dikeringkan sampai kadar air rendah sehingga dapat disimpan lama, benih-benih
ini disebut benih yang ortodoks, contohnya: akasia, kayu besi, salawaku, gamal, dll.
Sebaliknya ada benih yang tidak dapat dikeringkan dan tidak dapat disimpan lama.
Panitia Implementasi Program NFP-FAO Regional Maluku & Maluku Utara
Pelatihan Penanaman Hutan di Maluku & Maluku Utara – Ambon, 12 – 13 Desember 2007 4
benih-benih ini disebut benih yang bersifat rekalsitran seperti: meranti, damar,
mahoni, dll.

C. Penyimpanan Benih
Perlakuan yang terbaik pada benih ialah menanam benih atau disemaikan segera setelah
benih-benih itu dikumpulkan atau dipanen, jadi mengikuti cara-cara alamiah, namun hal ini
tidak selalu mungkin kareana musim berbuah tidak selalu sama, untuk itu penyimpanan benih
perlu dilakukan untuk menjamin ketersediaan benih saat musim tanam tiba.
Tujuan penyimpanan
- menjaga biji agar tetap dalam keadaan baik (daya kecambah tetap tinggi)
- melindungi biji dari serangan hama dan jamur.
- mencukupi persediaan biji selama musim berbuah tidak dapat mencukupi
kebutuhan.
Ada dua faktor yang penting selama penyimpanan benih yaitu, suhu dan kelembaban udara.
Umumnya benih dapat dipertahankan tetap baik dalam jangka waktu yang cukup lama, bila
suhu dan kelembaban udara dapat dijaga maka mutu benih dapat terjaga. Untuk itu perlu
runag khusus untuk penyimpanan benih.
Untuk benih ortodoks
Benih ortodoks dapat disimpan lama pada kadar air 6-10% atau dibawahnya. Penyimpanan
dapat dilakukan dengan menggunakan wadah seperti : karung kain, toples kaca/ plastik,
plastik, laleng, dll. Setelah itu benih dapat di simpan pada suhu kamar atau pada
temperature rendah “cold storage” umumnya pada suhu 2-5oC.
Untuk benih rekalsitran
Benih rekalsitran mempunyai kadar air tinggi, untuk itu dalam penyimpanan kadar air benih
perlu dipertahankan selama penyimpanan. Penyimpanan dapat menggunakan serbuk gergaji
atau serbuk arang. Caranya yaitu dengan memasukkan benih kedalam serbuk gergaji atau
arang.

D. Teknik Perkecambahan
Selama penyimpanan benih-benih dalam keadaan dormansi (tidur) dan pelu dilakukan
perlakuan sebelum di kecambahkan. Benih dikatakan dormansi apabila benih itu sebenarnya
hidup (viable) tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan lingkungan
yang memenuhi syarat bagi perkecambahan dan periode dormansi ini dapat berlangsung
semusim atau tahunan tergantung pada tipe dormansinya.

Ada beberapa tipe dari dormansi dan kadang-kadang lebih dari satu tipe terjadi didalam
benih yang sama. Di alam, dormansi dipatahkan secara perlahan-lahan atau disuatu kejadian
lingkungan yang khas. Tipe dari kejadian lingkungan yang dapat mematahkan dormansi
tergantung pada tipe dormansi.
Benih yang dorman dapat menguntungkan atau merugikan dalam penanganan benih.
Keuntungannya benih yang dorman adalah dapat mencegah agar tidak berkecambah selama
penyimpanan. Sesungguhya benih-benih yang tidak dorman seperti benih rekalsitran sagat
sulit untuk ditangani, karena perkecambahan dapat terjadi selama pengangkutan atau
penyimpanan sementara. Di suatu sisi, apabila dormansi sangat kompleks dan benih
membutuhkan perlakuan awal yang khusus, kegagalan untuk mengatasai masalah ini dapat
bersifat kegagalan perkecambahan.

Tipe Dormansi
Ada beberapa tipe dormansi, yaitu dormansi Fisik dan dormansi Fisiologis.
Dormansi Fisik
Pada tipe dormansi ini yang menyebabkan pembatas struktural terhadap perkecambahan
adalah kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap
masuknya air atau gas pada berbagai jenis tanaman. Yang termasuk dormansi fisik adalah:
a. Impermeabilitas kulit biji terhadap air
Benih-benih yang menunjukkan tipe dormansi ini disebut benih keras contohnya seperti
pada famili Leguminoceae, disini pengambilan air terhalang kulit biji yang mempunyai
struktur terdiri dari lapisan sel-sel berupa palisade yang berdinding tebal, terutama
dipermukaan paling luar dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin.
Di alam selain pergantian suhu tinggi dan rendah dapat menyebabkan benih retak
akibat pengembangan dan pengkerutan, juga kegiatan dari bakteri dan cendawan dapat
membantu memperpendek masa dormansi benih.

b. Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio
Pada tipe dormansi ini, beberapa jenis benih tetap berada dalam keadaan dorman
disebabkan kulit biji yang cukup kuat untuk menghalangi pertumbuhan embrio. Jika kulit
ini dihilangkan maka embrio akan tumbuh dengan segera. Tipe dormansi ini juga
umumnya dijumpai pada beberapa genera tropis seperti Pterocarpus, Terminalia,
Eucalyptus, dll ( Doran, 1997). Pada tipe dormansi ini juga didapati tipe kulit biji yang
biasa dilalui oleh air dan oksigen, tetapi perkembangan embrio terhalang oleh kekuatan
mekanis dari kulit biji tersebut. Hambatan mekanis terhadap pertumbuhan embrio dapat
diatasi dengan dua cara mengekstrasi benih dari pericarp atau kulit biji.

c. Adanya zat penghambat
Sejumlah jenis mengandung zat-zat penghambat dalam buah atau benih yang mencegah
perkecambahan. Zat penghambat yang paling sering dijumpai ditemukan dalam daging
buah. Untuk itu benih tersebut harus diekstrasi dan dicuci untuk menghilangkan zat-zat
penghambat.
Dormasi fisiologis (embrio)
Penyebabnya adalah embrio yang belum sempurna pertumbuhannya atau belum matang.
Benih-benih demikian memerlukan jangka waktu tertentu agar dapat berkecambah
(penyimpanan). Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari kurun waktu beberapa hari
sampai beberapa tahun tergantung jenis benih. Benih-benih ini biasanya ditempatkan pada
kondisi temperatur dan kelembaban tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga sampai embrio
terbentuk sempurna dan dapat berkecambah (Schmidt, 2002).
Perlakuan Awal Dormansi Fisik
Kebanyakan jenis dari famili leguminosae menunjukkan dormansi fisik, yang disebabkan
oleh struktur morfologis dari kulit biji yang rumit. Kondisi kedap air kulit biji legum relatif
dalam arti bahwa bermacam-macam jenis, bermacam-macam tingkatan kemasakan dan
bermacam-macam individu menunjukkan tingkat ketahanan terhadap penyerapan air
(imbibisi) yang berbeda.
Bebagai macam metode telah dikembangkan untuk mengatasi tipe dormansi ini, semua
metode menggunakan perinsip yang sama yakni bagaimana caranya agar air dapat masuk dan
penyerapan dapat berlangsung pada benih.
Teknik skarifikasi pada berbagai jenis benih harus disesuaikan dengan tingkat
dormansi fisik.
Berbagai teknik untuk mematahkan dormansi fisik antara lain seperti:
a. Perlakuan mekanis (skarifikasi)
Perlakuan mekanis (skarifikasi) pada kulit biji, dilakukan dengan cara penusukan,
pengoresan, pemecahan, pengikiran atau pembakaran, dengan bantuan pisau, jarum, kikir,
kertas gosok, atau lainnya adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi dormansi fisik.
Karena setiap benih ditangani secara manual, dapat diberikan perlakuan individu sesuai
dengan ketebalan biji. Pada hakekatnya semua benih dibuat permeabel dengan resiko
kerusakan yang kecil, asal daerah radikel tidak rusak (Schmidt, 2002).
Seluruh permukaan kulit biji dapat dijadikan titik penyerapan air. Pada benih legum,
lapisan sel palisade dari kulit biji menyerap air dan proses pelunakan menyebar dari titik ini
keseluruh permukan kulit biji dalam beberapa jam. Pada saat yang sama embrio menyerap
air. Skarifikasi manual efektif pada seluruh permukaan kulit biji, tetapi daerah microphylar
dimana terdapat radicle, harus dihindari. Kerusakan pada daerah ini dapat merusak benih,
sedangkan kerusakan pada kotiledon tidak akan mempengaruhi perkecambahan.

b. Air Panas
Air panas mematahkan dormansi fisik pada leguminosae melalui tegangan yang
menyebabkan pecahnya lapisan macrosclereids. Metode ini paling efektif bila benih direndam
dengan air panas. Pencelupan sesaat juga lebih baik untuk mencegah kerusakan pada embrio
karena bila perendaman paling lama, panas yang diteruskan kedalam embrio sehingga dapat
menyebabkan kerusakan. Suhu tinggi dapat merusak benih dengan kulit tipis, jadi kepekaan
terhadap suhu berfariasi tiap jenis.
Umumnya benih kering yang masak atau kulit bijinya relatif tebal toleran terhadap
perendaman sesaat dalam air mendidih.

c. Perlakuan kimia
Perlakuan kimia dengan bahan-bahan kimia sering dilakukan untuk memecahkan
dormansi pada benih. Tujuan utamanya adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah
dimasuki oleh air pada waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat dengan
konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lunak sehingga dapat dilalui air dengan mudah.
Larutan asam untuk perlakuan ini adalah asam sulfat pekat (H2SO4) asam ini
menyebabkan kerusakan pada kulit biji dan dapat diterapkan pada legum maupun non legume
(Coppeland, 1980). Tetapi metode ini tidak sesuai untuk benih yang mudah sekali menjadi
permeable, karena asam akan merusak embrio. Lamanya perlakuan larutan asam harus
memperhatikan 2 hal, yaitu:
1). kulit biji atau pericarp yang dapat diretakkan untuk memungkinkan imbibisi
2). larutan asam tidak mengenai embrio.

Tuesday, January 26, 2010

Pertanian Organik

Prospek Pertanian Organik di Indonesia

Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan "Back to Nature" telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia

Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.

Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.

Tabel 1. Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002

No. Wilayah Areal Tanam (juta ha)

  1. Australia dan Oceania 7,70
  2. Eropa 4,20
  3. Amerika Latin 3,70
  4. Amerika Utar 1,30
  5. Asia 0,09
  6. Afrika 0,06

Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Organik Modern

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.

b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.

Tabel 2. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik

No. Kategori Komoditi

  1. Tanaman Pangan Padi
  2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
  3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
  4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
  5. Peternakan Susu, telur dan daging

Monday, November 23, 2009

Budidaya Tanaman

Cara Praktis Budidaya Jamur


Ada teknologi
yang cukup praktis untuk budidaya jamur tiram Pleurotus spp, yakni tahapan membuat media bibit induk (spawn) dan tahanan memproduksi jamur tiramnya. Pada tahanan membuat media bibit induk ada 10 langkah yang perlu dilakukan. Pertama, bahan medianya yang berupa biji-bijian atau campuran serbuk gergajian albusia (SKG) ditambah biji millet 1 (42%) : 1 (42%). Bahan baku ini adalah yang terbaik.
Langkah kedua, bahan baku dicuci dan direbus selama 30 menit menggunakan pressure cooker atau panci. Langkah ketiga, bahan baku tersebut ditiriskan dengan ayakan. Tambahkan 1% kapur (CaCl3), 1% gypsum (CaSO4), vitamin B kompleks (sangat sedikit) dan atau 15 persen bekatul. Kadar air 45-60 % dengan penambahan air sedikit dan pH 7.
Langkah keempat, bahan baku tersebut lalu didistribusikan ke dalam baglog polipropilen atau botol susu atau botol jam pada hari itu juga. Perbotol diisi 50-60% media bibit, disumbat kapas/kapuk, dibalut kertas koran/alumunium foil. Langkah kelima, sterilisasi dalam autoclav selama 2 jam atau pasteurisasi 8 jam pada hari itu juga. Temperatur autoclave 121 derajat C, tekanan 1 lb, selama 2 jam. Temperatur pasteurisasi 95 derajat C.
Langkah keenam, lakukan inokulasi dengan laminar flow satu hari kemudian. Setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar dilakukan inokulasi bibit asal biakan murni pada media PDA (sebanyak 2-3 koloni miselium per botol bibit). Langkah ketujuh, inkubasi (pertumbuhan miselium 15-21 hari) pada ruang inkubasi/inkubator, suhu 22-28 derajat C.
Langkah kedelapan, botol atau baglog isi bibit dikocok setiap hari, dua hingga tiga kali. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan miselium bibit jamur merata dan cepat serta media bibit tidak menggumpal/mengeras. Kesembilan, bibit induk dipenuhi miselium jamur dengan ciri pertumbuhan miselium jamur kompak dan merata.
Langkah terakhir, jamur tersebut digunakan sebagai inokulan/bibit induk/bibit sehat perbanyakan ke 1 dan ke 2. Bibit ini disimpan dalam lemari pendingin selama 1 tahun, bila tidak akan segera digunakan.
Tahap selanjutnya adalah memproduksi jamur tiram (Pleurotus spp). Dalam tahapan ini juga ada 10 langkah. Pertama, siapkan serbuk kayu gergajian albasia. Rendam selama 0-12 jam (bergantung pada spesies/strain serbuk kayu yang digunakan). Langkah kedua, tiriskan sampai tidak ada air, pada hari itu juga dengan mengunakan saringan kawat atau ayakan kawat.
Langkah ketiga, membuat subtrat/media tumbuh, pada hari itu juga. Tambahkan 5-15 % bekatul atau polar (bergantung pada spesies/strain yang digunakan), 2% kapur (CaCO3), 2% gypsum (CaSO4) dan air bersih, diaduk merata, kadar air substrat 65%, pH 7.
Langkah keempat, distribusikan kedalam baglog polipropilen pada ahri itu juga. Padatkan dalam wadah tersebut, beri lubang bagian tengah, dipasang mulut cincin pralon, kemudian ditutup dengan kapas/kertas minyak. Langkah kelima, sterilisasi/pasteurisasi, satu hari kemudian. Simpan dalam kamar uap atau kukus dalam drum dengan suhu media di dalam baglog 95-120 derajat C selama 1-3 kali 8 jam bergantung pada jumlah substrat yang akan di pasteurisasi. Langkah keenam, inokulasi substrat dengan spawn di ruang inokulasi. Setelahsuhu baglog substrat turun sampai suhu kamar, inokulasikan bibit pada substrat dalam laminar flow. Bibit 10-15gr/kg substrat.
Langkah ketujuh, inkubasi baglog substrat (pertumbuhan miselium 15-30 hari). Rumah jamur/kubung/ruang inkubasi dijaga tetap kering dan bersih, suhu 22-28 derajat C tanpa cahaya. Langkah kedelapan, baglog substrat dibuka cincin dibuka (7-15 hari kemudian). Cara membuka berbeda-beda, tergantung jenis jamur kayu yang digunakan.
Langkah kesembilan, baglog disusun di rak dalam rumah jamur (pertumbuhan jamur 10-15 hari kemudian, tumbuh pin head/bakal tumbuh buah). Bakal tumbuh buah tersebut disiram air bersih agar jamur tumbuh. Untuk jamur tiram, yang disiram rumah jamurnya. Untuk jamur kuping penyiraman langsung pada substrat sampai basah kuyup. Suhu rumah jamur 16-22 derajat C RH : 80-90 %.
Langkah terakhir panen jamur tiram/kuping. Panen kurang dari 9 kali dalam waktu kurang dari 1,5 bulan tergantung cara pemeliharaan/penyiraman jamur dan kebersihan kubung. Atau sisa panen 2-5 kali seminggu.
Faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya jamur tiram ini adalah masalah higienis, aplikasi bibit unggul, teknlogi produksi bibit (kultur murni, bibit induk, bibit sebar), teknologi produksi media tumbuh/substrat dan pemeliharaan serta cara panen jamur tiram.


Budidaya Semangka Nonbiji

Tanaman semangka (Citrullus vulgaris. Scard) adalah tanaman yang berasal dari Benua Afrika tepatnya di gurun pasir Kala hari. Penyebarannya ke India, China dan Amerika di lakukan oleh para pelayar dari pedagang. Buah semangka memiliki daya tarik tersendiri dari buahnya yang segar dan manis. Kandungan airnya mencapai 92 %, karbohidrat 7 % dan sisanya adalah vitamin. Semangka termasuk tanaman musim kering tetapi akhir - akhir ini dengan tehnologi yang makin berkembang, semangka dapat ditanam kapan saja. Agar dapat tumbuh dengan baik dan cepat tanaman semangka membutuhkan iklim yang kering, panas dan tersedia cukup air.
Dengan teknologi budidaya yang baik dan benar, semangka non biji Setabindo dapat menghasilkan buah yang berkualitas prima

Iklim yang basah akan menyebabkan pertumbuhannya terhambat, mudah terserang penyakit serta produksi dan kualitas buahnya akan menurun. Perkembangan tehnologi budidaya semangka di-daerah Sub tropika lebih maju dibandingkan daerah asalnya ( tropika ). Jenis - jenis baru baik hibrida yang diploid ( semangka berbiji ) maupun yang triploid ( semngka tak berbiji ) telah banyak di kembangkan dengan kualitas buah dan hasil jauh lebih baik dibandingkan dengan semangka tropis ( varietas asalnya ).

SEMANGKA TANPA BIJI

Semangka tanpa biji atau biasa disebut semangka seedless adalah merupakan semangka hibrida F-1 juga. Namun tetua atau induknya masing - masing berasal dari tetua betina semangka tetraploid dengan tetua jantan semangka diploid. Oleh karena itu semangka ini disebut juga semangka hibrida tetraploid. Teknik pembenihan semangka tanpa biji diketemukan oleh Prof. Dr. Hitoshi Kihara. Untuk memperoleh tetua yang tetraploid harus melalui pelipat gandaan jumlah kromosom yang dalam istilah ilmiahnya sering di sebut dengan mutasi duplikasi. Dari persilangan semangka tetraploid dengan diploid ini akan diperoleh semangka triploid ( semangka seedless) yang mempunyai daya vitalitas rendah. Jika suhu udara rendah ( Kurang dari 29 0 C ) maka daya kecambahnya pun akan lambat, oleh karena itu perkecambahan benih semangka triploid memerlukan suhu udara yang cukup tinggi agar perkecambahannya dapat terjamin. Pertumbuhan tanaman muda pada awalnya lemah, bahkan terkadang tidak normal, tetapi selanjutnya tanaman akan tumbuh kuat. Daya kecambah rata - rata biji semangka triploid adalah antara 27,5 - 85 % dengan bentuk kotiledon yang lebih kecil daripada semangka diploid. Tanaman semangka triploid sebenarnya memiliki bunga jantan dan betina yang lengkap, tetapi bakal biji dan benamg sarinya mandul, maka biji tidak akan terbentuk. Meskipun demikian biji kosong yang berwarna putih atau coklat terkadang masih dijumpai. Terbentuknya biji kosong yang berwarna coklat biasanya disebabkan karena kelebihan dosis pemupukan unsur hara phospor(P205.).

METODE PENGECAMBAHAN BENIH SEMANGKA NON BIJI MODEL SITUBONDO

Usaha budidaya semangka baik yang berbiji maupun yang nonbiji pada dasarnya hampir sama, tetapi pelaksanaannya ada sedikit perbedaan terutama dalam proses perkawinan antara bunga jantan dan bunga betina serta dalam perlakuan pengecambahan biji. Pada semangka nonbiji diperlukan proses pengecambahan dan penyemaian yang spesifik yang tidak dilakukan pada semangka berbiji. Seringkali dalam budidaya semangka nonbiji mengalami kegagalan akibat dari penyemaian benih yang kurang benar sehingga menyebabkan benih yang disemai mengalami kegagalan tumbuh. Perlakuan yang spesifik pada benih semangka nonbiji diperlukan dalam penyemaiannya karena benih semangka non biji memiliki kulit biji yang tebal dan keras, endosperm (cadangan makanan dalam biji ) yang kecil dan kotiledon (calon akar) sangat kecil, sehingga sangat dianjurkan kepada para petani untuk tidak menyimpan benih semangka nonbiji terlalu lama karena daya tumbuhnya cepat sekali turun. Memperhatikan keadaan tersebut diatas dalam budidaya semangka nonbiji sangat dianjurkan untuk melakukan pengecambahan sebelum bibit di semai, sehingga akan diperoleh mamfaat, diantaranya:

1. Mengurangi kematian benih.
2. Mempertinggi persentase daya tumbuh.
3. Mempercepat penyemai
- an benih.
4. Menyeragamkan per- tumbuhan tanaman.
5. Menghemat pemakaian benih.
6. Menghindari kekurangan benih.
7. Meminimalkan serangan hama penyakit dan memudahkan perawatan.

Dalam proses pen-gecambahan benih semangka non biji banyak cara yang dilakukan oleh petani dan di setiap daerah memiliki cara yang berbeda akan tetapi pada dasarnya hanya mengacu pada persyaratan berkecambah-nya benih semangka non biji. Persyaratan untuk ber-kecambahnya benih adalah suhu antara 25-30 derajat Celsius dan tidak membutuhkan sinar mata hari secara langsung.

CARA PENGECAMBAHAN BENIH YANG BIASA DILAKUKAN PETANI SITUBONDO

Pertama - tama benih disiapkan sesuai kebutuhan dan dikeluarkan dari wadahnya. Setiap bagian ujung benih dipecah kulitnya dengan menggunakan gunting kuku dan menjepitnya pada bagian tengah gunting kuku, maksud dari perlakuan ini adalah untuk memudahkan kotiledon keluar dari bagian kulit biji serta memudahkan biji menghisap air dari luar. Dalam pelaksanaannya kita harus hati - hati agar bagian kotiledonnya tidak ikut pecah karena, apabila bagian kotiledon pecah akan mengakibatkan pecahnya bagian pangkal batang kelak kalau sudah ditanaman dilapangan. Setelah benih di pecahkan selanjutnya benih direndam dalam larutan zat pengatur tumbuh dan fungisida selama kurang lebih 1-2 menit, selanjutnya benih tersebut diletakkan pada 6 lembar kertas merang yang telah dibasahi dengan larutan fungisida dan

zat pengatur tumbuh. Setelah benih diletakan dan ditata kemudian ditutup kembali dengan 6 lembar kertas merang yang telah dibasahi dengan larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh, kemudian letakkan dan tata kembali benih yang telah direndam tadi diatasnya, tutup dengan kertas merang, begitu seterusnya sampai bertapis-lapis hingga benih yang akan di kecambahkan habis. Untuk lapisan paling bawah dan paling atas diberi lapisan kardus. Agar kecambah atau calon akar tumbuh lurus, bagian bawah dan atas media kita beri lapisan kaca tebal seukuran kertas merang kemudian kita press dengan cara yang tepat dan di ikat dengan kuat, setelah itu masukan kedalam kotak kardus yang agak longgar kemudian ditutup dengan rapat agar suhu udara dalam kotak tetap hangat dengan suhu antara 20 -30 derajat Celsius. Kotak tersebut diplester atau dilakban plastik pada setiap sisinya, kemudian disimpan pada

tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Setelah diperam 40-42 jam media penge-cambahan tersebut kita buka dan biasanya benih telah berkecambah dengan ukuran calon akar kurang lebih 1 Cm. Kecambah - kecambah tersebut selanjutnya kita tanam pada polybag - polybag yang telah disiapkan dengan dengan bagian calon akar kecambah menghadap kebawah.Untuk biji-biji yang perkecambahan-nya belum normal kita peram kembali selama beberapa jam baru setelah berkecambah dengan normal kita tanam pada polybag. (Red).


Budidaya Buah Naga

Asal Usul Buah Naga

Buah Naga telah lama dikenal oleh rakyat Tionghoa kuno sebagai buah yang membawa berkah. karena biasanya buah naga diletakkan diantara patung naga di altar.Oleh karena itu orang Vietnam menyebut buah naga atau dalam bahasa Vietnam disebut dengan nama Thang Loy di Thailand diberi nama Keaw Mang Kheon, dalam istiiah Inggris diberi nama DRAGON FRUIT clan di Indonesia dikenal dengan nama BUM NAGA Sebenarnya tanaman ini bukan tanaman asil daratan Asia, tetapi merupakan tanaman ask Meksiko clan Amerika Selatan bagian utara ( Colombia ). Pada awainya buah naga ini dibawa kekawasan Indocina ( Vietnam ) oleh seorang Perancis sekitar tahun 1870. dari Guyama Amerika Selatan sebagai hiasan sebab sosoknya yang unik dan bunganya yang cantik dan berwarna putih. Baru sekitar tahun 1980 setelah dibawa ke Okinawa Jepang tanaman ini mendunia karena sangat menguntungkan. Pada tahun 1977 buah ini dibawa ke Indonesia clan berhasil disemaikan kemudian dibudidayakan. Buah naga kaya akan vitamin dan mineral dengan kandungan serat cukup banyak sehingga cocok untuk diet.


Beberapa khasiat dari DRAGON FRUIT adalah :

1. Penyeimbang kadar gula
2. Pencegah Kolesterol tinggi
3. Pencegah kanker usus

1. Persyaratan Tumbuh Tanam

Ditanam di dataran rendah, pada ketinggian 20 – 500 m diatas permukaan iaut

Kondisi tanah yang gembur, porous, banyak mengandung bahan organik clan banyak mengandung unsur hara, pH tanah 5 – 7

Air cukup tersedia, karena tanaman ini peka terhadap kekeringan dan akan membusuk bila kelebihan air Membutuhkan penyinaran cahaya matahari penuh, untuk mempercepat proses pembungaan

2. Persiapan Lahan

Persiapkan tiang penopang untuk tegakan tanaman, karena tanaman ini tidak mempunyai batang primer yang kokoh. Dapat menggunakan tiang dari kayu atau beton dengan ukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 meter, yang ditancapikan ke tanah sedalam 50 cm. Ujung bagian atas dari tiang penyangga diberi besi yang berbentulk lingkaran untulk penopang dari cabang tanaman

Sebulan sebeium tanam, terlebi dahulu dibuatkan Wbang tanan dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan jarak tanam 2 m x 2,5 m, sehingga dalam 1 hektar terdapat sekitar 2000 lubang tanam penyangga

Setiap tiang/pohon penyangga itu dibuat 3 – 4 Lubang tanarn dengan jarak sekitar 30 cm dari tian penyangga.

Lubang tanam tersebut kemudian diberi pupuk kandang yang masak sebanyak 5 – 10 kg dicampur dengan tanah

3. Persiapan bibit dan penanaman

Buah naga dapat diperbanyak dengan cara :
Stek dan Biji

Umumnya ditanam dengan stek dibutuhkan bahan batang tanaman dengan panjang 25 – 30 cm yang ditanam dalam polybag dengan media tanam berupa campuran tanah, pasir clan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
Setelah bibit berumur ? 3 bulan bibit siap dipindah/ditanam di lahan.

4. Pemeliharaan

Pengairan
Pada tahap awal perturnbuhan pengairan dilakukan 1 – 2 hari sekali. pemberian air berlebihan akan menyebabkan terjadinya pembusukan

Pemupukan
Pernupukan tanaman diberikan pupuk kandang, dengan interval pemberian 3 bulan sekali, sebanyak 5 – 10 Kg.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Sementara belum ditemukan adanya serangan hama clan penyakit yang potensial. Pembersilhan lahan atau pengendalian gulma dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman

Pemangkasan

atang utama ( primer ) dipangkas, setelah tinggi mencapai tiang penyangga ( sekitar 2 m ), clan ditumbuhkan 2 cabang sekunder, kemudian dari masing-masing cabang sekunder dipangkas lagi clan ditumbuhkan 2cabang tersier yang berfungsi sebagai cabang produksi.

5. Panen

Setelah tanaman umur 1,5 – 2 tahun, mulai berbunga dan berbuah. Pemanenan pada tanaman buah naga dilakukan pada buah yang memiliki ciri – ciri warna kulit merah
mengkilap, jumbai / sisik berubah warna dari hijau menjadi kernerahan. Pemanenan dilakulkan dengan menggunakan gunting, buah dapat dipanen saat buah mencapai umur 50 hari terhitung sejak bunga mekar

Dalam 2 tahun pertama. setiap tiang penyangga mampu menghasilkan buah 8 s / d 10 buah naga dengan bobot sekitar antara 400 – 650 gram

Musim panen terbesar buah naga terjadi pada bulan September hingga Maret

Umur produktif tanaman buah naga ini berkisar antara 15 – 20 tahun


Budidaya Cabai Rawit

Sebagai salah satu sentra produksi sayuran di kawasan Bukit Tinggi, Kecamatan Banu Hampu Sungai Puar, Kab. Agam Sumatera Barat, penanaman cabe rawit di sana tergolong jarang dibudidayakan. Jangankan intensif, pembudidayaan secara tradisional oleh petani setempat pun termasuk langka. Kalaupun ada, biasanya petani menanamnya dalam skala kecil dan umumnya mereka menanam cabe rawit di sekitar pekarangan rumahnya sehingga lebih digolongkan sebagai tanaman warung hidup.

Kurang intensifnya pembudidayaan cabe rawit di kalangan petani sayuran di daerah tersebut tidak terlepas dari kurangnya informasi yang lengkap mengenai komoditas ini. Meskipun tidak se-bombastis cabe besar maupun cabe kriting, namun melihat dari kecendrungan permintaan yang meningkat dan dibarengi dengan kenyataan bahwa harganya bisa 2 kali lipat harga cabe biasa, peluang pembudidayaan intensif cabe rawit cukup menjanjikan. Informasi mengenai harga dan peluang inilah yang belum banyak diketahui oleh petani sayuran umumnya. Mungkin para petani Banuhampu belum mengetahui bahwa permintaan pasar akan cabe rawit di bukit tinggi cukup besar. Bahkan menurut informasi yang didapatkan, di cabe rawit dapat ditampung berapapun jumlahnya oleh pedagang pengumpul baik itu di Pasar Padang Luar, pedagang baso, maupun di Padang Panjang Kabupaten Tanah Datar. Perlu diketahui pula bahwa cabe rawit ternyata tidak hanya dikonsumsi masyrakat Sumatra Barat saja , bahkan ada yang sampai dijual ke Propinsi Riau.


Dan juga ada yang dierkspor ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Bila dibandingkan dengan cabe besar atau cabe kriting, pembudidayaan cabe rawit malah relatif lebih mudah. Selain itu keuntungan lainnya adalah masa panen lebih panjang sehingga buahnya dapat dipanen hingga umur minimal 1 tahun bahkan ada varietas yang lebih lama lagi. Terdorong oleh kenyataan tersebut maka penulis merasa terketuk hati dan ingin membagi pengalaman dalam membudidayakan cabe rawit yang pengelolaannya seperti hobby namun cukup menjanjikan ini.

Cabe rawit dapat ditanam di lahan mana saja seperti lahan sawah, tegalan, dan tempat yang terlindungi oleh pepohonan sekalipun asalkan pesyaratan tumbuhnya terpenuhi. Penulis memang tidak membudidayakan secara besar-besaran seperti halnya petani sayuran lain yang membudidayakan cabe biasa, melainkan “hanya” menggunakan lahan produktif yang ada yaitu sekitar 1000 populasi (batang) saja. Populasi ini lebih sedikit dibandingkan beberapa waktu lalu yang hingga mencapai 4000 populasi. Meskipun hanya berkisar 1000 batang, penggunaan mulsa plastik hitam perak (HP) merupakan sesuatu yang penting. Sebagai perbandingan, untuk populasi 4000 batang, kami menggunakan kurang lebih 40 Kg mulsa plastik ukuran standar.

Pilih Benih
Budidaya Cabe Rawit diawali dengan pemilihan benih. Pemilihan benih merupakan langkah awal yang sangat penting. Karena bila kita memilihi benih yang tidak baik, tentu saja hasilnya pun tidak baik pula. Bibit atau benih cabe harus sudah tersedia terlebih dahulu sebelum kita mulai mengerjakan lahan. Benih cabe rawit dapat diperoleh dari toko pertanian setempat baik berupa varietas lokal, OP maupun hibrida. Pemilihan benih lokal, OP maupun hibrida tergantung pada petani itu sendiri. Namun akan lebih bagus dan lebih prima hasilnya bila kita menggunakan benih hibrida atau OP yang unggul yang ada dipasaran. Mengapa? Pengalaman telah menunjukkan bahwa hasil produksi benih hibrida atau veritas OP yang unggul jauh lebih baik dibandingkan varietas lokal. Tidak hanya dari hasil saja, keunggulan cabe rawit unggul dan hibrida dapat dilihat dari vigor, kesaragaman tanaman serta ketahanannya terhadap penyakit yang menunjukkan hasil yang lebih baik. Untuk jenis OP, kita dapat memilih benih cabe rawit seperti varietas Cakra Hijau atau juga Cakra Putih. Khusus untuk Cakra Hijau, dari penga-laman yang pernah kami dapat menun-jukkan bahwa cabe rawit ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun tinggi, lebih tahan dari gangguan hama dan penyakit, serta dapat dipanen pada umur 80 – 90 hari setelah tanam. Pertimbangan pemilihan varietas Cakra Hijau juga dipengaruhi oleh cukup banyaknya peminat cabe rawit ini baik dari propinsi Riau maupun negara tetangga karena pedasnya yang luar biasa. Saat ini harga jual cabe rawit tersebut (Bulan Januari 2003-red) mencapai Rp. 15.000,-/Kg. Bahkan bisa lebih dari itu.

CAKRA HIJAU
Umur Panen : 80 - 85 HST
Keb.Benih : + 150 gr/ha
Potensi/ha : 12 ton/ha
Berat/buah : + 2 gram
Ukuran Buah : 3 x 0,75 cm
Bentuk Buah : kecil/rawit
Ketahanan : cukup tahan
Jarak Tanam : 60 x 60
Keunggulan : Produktif, rasa buahnya sangat pedas, cabe rawit hijau namun akan berwarna merah setelah masak, adaptasi lingkungan baik.
Cabe rawit cakra hijau. Produksi tinggi dan sangat pedas.

Persemaian
Benih cabe yang kita pilih disemaikan seperti halnya cabe besar. Kami melakukan penyemaian dengan menaburkan benih-benih tersebut di atas tanah yang telah dibuat bedengan dengan rapi, dan berderet. Untuk pembibitan digunakan bumbungan yang dibuat dari kertas pembungkus nasi. Karena masa tumbuh cabe rawit lebih lama dari cabe merah biasa, maka sebelum benih ditabur benih sebaiknya direndam terlebih dahulu kira-kira satu hingga dua hari untuk kemudian diperam (dikecambahkan) dengan membungkusnya dengan kain yanag sudah dibasahi dengan air.

Setelah tumbuh radikula (calon akar), barulah benih ditaburkan ke lahan yang telah disiapkan sebelumnya. Agar bibit cabe tidak berhimpitan yang diakibatkan daunnya yang melebar, maka saat penebaran disarankan tidak berdekatan antara benih yang satu dengan yang lain. Untuk itulah penggunaan polybag baik dari plastik, daun pisang maupun yang lainnya sangat dianjurkan. Setelah benih berumur kurang lebih satu hingga satu setengah bulan, yang dicirikan dengan munculnya 4 daun sempurna tanaman cabe, bibit kemudian dipindahtanamkan ke lahan penanaman.

Penanaman
Jarak tanam antara tanaman sebaiknya digunakan 60 – 70 cm dengan jarak antar bedengan 75 cm. Penggunaan jarak yang terlalu rapat akan menyebabkan pertumbuhan tanaman cabe satu sama lain akan berhimpitan, apalagi tanaman cabe rawit memiliki struktur kanopi yang lebih lebar. Tanaman cabe rawit tidak perlu dilakukan perempelan (pembuangan tunas-tunas). Hal ini karena tunas tersebut akan menjadi calon ranting maupun cabang, Semakin banyak cabang atau rantingnya maka semakin baik, karena batang/cabang merupakan tempat tumbuhnya bunga dan buah sehingga semakin banyak pula buah cabai yang akan kita peroleh.

Pemupukan
Peranan pupuk kandang sangat dominan dalam budidaya cabe rawit ini. Pupuk kandang dapat menggunakan kotoran ayam ras.buras, itik, sapi, atau kerbau. Pupuk kandang yang kami gunakan kotoran ayam yang sudah kering adalah sekitar 500 – 700 gram /tanaman. Jadi, untuk populasi 1000 tanaman, menghabiskan pupuk kandang kurang lebih 500 – 700 Kg. Selain menggunakan pupuk organik, pemberian pupuk buatan sangat perlu untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Adapun pupuk buatan yang digunakan pada budidaya cabe rawit adalah urea dengan pupuk NPK Grand-S 15 perbandingan 2 : 1. Dosis pupuk yang digunakan kurang lebih 75 – 80 gram per tanaman. Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar yang ditaburkan di bagian kiri dan kanan bedengan. Sedangkan pupuk buatan ditaburkan di bagian tengah bedengan. Setelah penebaran pupuk selesai, bedengan kemudian ditimbun kembali dengan tanah yang diambil dari bagian samping bedengan hingga tertutup dengan ketebalan 2 – 3 cm. Sebagai pengganti Grand - S 15 , dapat juga digunakan pupuk tanigro ditambah Grand-K.
Bedengan yang telah ditaburi pupuk kemudain ditutup dengan mulsa HP, dibiarkan kira-kira dua hingga tiga hari untuk kemudian bibit cabai ditempatkan pada setiap lubang tanam yang sudah dibuat sebelumnya. Pertumbuhan cabe rawit akan tampak baik penampilan maupun vigornya pada umur 10 – 15 hst terlebih bila menggunakan bumbungan saat pembibitan.

Hama dan penyakit yang seringkali menyerang cabe rawit adalah ulat daun, kutu daun serta penyakit bercak daun. Pengendalian HPT pada tanaman cabe rawit relatif lebih ringan dibandingkan cabe besar. Untuk mengendalikan serangan ulat, dapat digunakan insektisida biologis seperti Turex WP, sedangkan untuk mengendalikan kutu daun dan thrips dapat digunakan insektisida Winder 25WP atau Winder 100EC. Sedangkan pengedalian penyakit seperti bercak daun dapat dikendalikan dengan Kocide 54WDG atau Victory 80WP. Pemakaian pestisida tersebut dapat dicampur sesuai dosis anjuran yang ada.

Setelah tanaman berumur kira-kira 80 – 90 hari, buah cabe sudah dapat dipetik. Karena varietas cakra hijau ini buahnya kecil dengan warna hijau yang mirip daun, maka pemanenan harus ekstra hati-hati sehingga jangan sampai ada yang luput dari pemetikan (pemanenan). Berdasarkan pengalaman, cabe rawit dapat dipanen minimal 15 kali bahkan bisa sampai 18 kali. Tergantung situasi dan kondisi tanah, vareitas serta lingkungan yang menunjang. Penggunaan ulang pupuk yang sama dengan dosis setengahnya dari dosis awal ditenggarai dapat memperpanjang masa panen cabe rawit 2 – 3 kali lagi.

Cukup Menguntungkan
Berdasarkan perhitungan sederhana yang dilakukan sebagai analisis usaha tani, data berikut dapat memberikan seidkit gambaran bagaimana keuntungan yang bisa diraih dari budidaya cabe rawit ini. Misalnya biaya setiap batang cabe rawit dihargai Rp. 400,- dengan hasil panen rata-rata 6 ons per tanaman. Dengan jumlah tanaman kira-kira 2000 batang, maka kita akan mendapatkan pemasukan : 0,6 Kg (600 gram) x 2000 tanaman x Rp. 15.000,- (harga cabe rawit /Kg) = Rp. 18.000.000,-. Padahal biaya produksinya hanya Rp. 400 x 2000 tanaman = Rp. 800.000,-. Berarti kita mendapat keuntungan sebesar Rp 18.000.000 – Rp. 800.000,- = Rp. 17.200.000,-. Melihat hasil seperti ini maka tidaklah salah bila dikatakan cabe rawit itu kecil buahnya, pedas rasanya namun pedas juga harga jualnya. Selamat Mencoba.

BUDIDAYA TANAMAN SAWI

A. LATAR BELAKANG.

Jagad Indonesia ini memungkinkan dikembangkan tanaman sayur-sayuran yang banyak bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi manusia. Sehingga ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan untuk bisnis sayuran.
Di antara tanaman sayur-sayuran yang mudah dibudidayakan adalah caisim. Karena caisim ini sangat mudah dikembangkan dan banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya. Selain itu juga sangat potensial untuk komersial dan prospek sangat baik..
Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek sosialnya sangat mendukung, sehingga memiliki kelayakan untuk diusahakan di Indonesia.
Sebutan sawi orang asing adalah mustard. Perdagangan internasional dengan sebutan green mustard, chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta mustard. Orang Jawa, Madura menyebutnya dengan sawi, sedang orang Sunda menyebut sasawi.

B. MANFAAT.

Manfaat sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Penyembuh penyakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar pencernaan.
Sedangkan kandungan yang terdapat pada sawi adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C.

JENIS SAWI

A. KLASIFIKASI BOTANI.

Divisi : Spermatophyta.
Subdivisi : Angiospermae.
Kelas : Dicotyledonae.
Ordo : Rhoeadales (Brassicales).
Famili : Cruciferae (Brassicaceae).
Genus : Brassica.
Spesies : Brassica Juncea.

B. JENIS-JENIS SAWI.

Secara umum tanaman sawi biasanya mempunyai daun panjang, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu : sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, dan sawi huma. Sekarang ini masyarakat lebih mengenal caisim alias sawi bakso. Selain itu juga ada pula jenis sawi keriting dan sawi sawi monumen.
Caisim alias sawi bakso ada juga yang menyebutnya sawi cina., merupakan jenis sawi yang paling banyak dijajakan di pasar-pasae dewasa ini. Tangkai daunnya panjang, langsing, berwarna putih kehijauan. Daunnya lebar memanjang, tipis dan berwarna hijau. Rasanya yang renyah, segar, dengan sedikit sekali rasa pahit. Selain enak ditumis atau dioseng, juga untuk pedangan mie bakso, mie ayam, atau restoran cina.

SYARAT TUMBUH

Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.
Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan.
Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.

BUDIDAYA TANAMAN SAWI

Cara bertanam sawi sesungguhnya tak berbeda jauh dengan budidaya sayuran pada umumnya. Budidaya konvensional di lahan meliputi proses pengolahan lahan, penyiapan benih, teknik penanaman, penyediaan pupuk dan pestisida, serta pemeliharaan tanaman.
Sawi dapat ditanam secara monokultur maupun tunmpang sari. Tanaman yang dapat ditumpangsarikan antara lain : bawang dau, wortel, bayam, kangkung darat. Sedangkan menanam benih sawi ada yang secara langsung tetapi ada juga melalui pembibitan terlebih dahulu.
Berikut ini akan dibahas mengenai teknik budidaya sawi secara konvensional di lahan.

A. BENIH.

Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram.
Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil.
Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain. Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan mesilnya dengan dianginkan, tempat penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.

B. PENGOLAHAN TANAH.

Pengolahan tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan yang akan kita gunakan.
Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung.
Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk organik sangat baik untuk penyiapan tanah. Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang baik yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan.
Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran. Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya. Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2 – 4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).

C. PEMBIBITAN.

Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman. Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Sedang ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80 – 120 cm dan panjangnya 1 – 3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan 20 – 30 cm.
Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl.
Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1 – 2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3 – 5 hari benih akan tumbuh setelah berumur 3 – 4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan.

D. PENANAMAN.

Bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedeng 20 – 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm.
Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4 – 8 x 6 – 10 cm.

E. PEMELIHARAAN.

Pemeliharaan adalah hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, penyiraman ini tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu panaspenyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.
Tahap selanjutnya yaitu penjarangan, penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat.
Selanjutnya tahap yang dilakukan adalah penyulaman, penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru.
Penyiangan biasanya dilakukan 2 – 4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan.
Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha. Dapat juga dengan satu sendok the sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan.

PENANAMAN VERTIKULTUR

Langkah – angkah penanaman secara vertikultur adalah sebagai berikut :

1. Benih disemaikan pada kotak persemaian denagn media pasir. Bibit dirawat hingga siap ditanaman pada umur 14 hari sejak benih disemaikan.
2. Sediakan media tanam berupa tanah top soil, pupuk kandang, pasir dan kompos dengan perbandingan 2:1:1:1 yang dicampur secara merata.
3. Masukkan campuran media tanam tersebut ke dalam polibag yang berukuran 20 x 30 cm.
4. Pindahkan bibit tanaman yang sudah siap tanam ke dalam polibag yang tersedia. Tanaman yang dipindahkan biasanya telah berdaun 3 – 5 helai.
5. Polibag yang sudah ditanami disusun pada rak-rak yang tersedia pada Lath House.

PENANAMAN HIDROPONIK.

Langkah-langkah penanaman secara hidroponik adalah sebagai berikut :

1. Siapkan wadah persemaian . Masukkan media berupa pasir halus yang disterilkan setebal 3 – 4 cm. Taburkan benih sawi di atasnya selanjutnya tutupi kembali dengan lapisan pasir setebal 0,5 cm.
2. Setelah bibit tumbuh dan berdaun 3 – 5 helai (umur 3 – 4 minggu0, bibit dicabut dengan hati-hati, selanjutnya bagian akarnya dicuci dengan air hingga bersih, akar yang terlalu panjang dapat digunting.
3. Bak penanaman diisi bagian bawahnya dengan kerikil steril setebal 7 – 10 cm, selanjutnya di sebelah atas ditambahkan lapisan pasir kasar yang juga sudah steril setebal 20 cm.
4. Buat lubang penanaman dengan jarak sekitar 25 x 25 cm, masukkan bibit ke lubang tersebut, tutupi bagian akar bibit dengan media hingga melewati leher akar, usahakan posisi bibit tegak lurus dengan media.
5. Berikan larutan hidroponik lewat penyiraman, dapat pula pemberian dilakukan dengan sistem drip irigation atau sistem lainnya, tanaman baru selanjutnya dipelihara hingga tumbuh besar.

HAMA DAN PENYAKIT

A. HAMA.

1. Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.).
2. Ulat tritip (Plutella maculipennis).
3. Siput (Agriolimas sp.).
4. Ulat Thepa javanica.
5. Cacing bulu (cut worm).

B. PENYAKIT.

1. Penyakit akar pekuk.
2. Bercak daun alternaria.
3. Busuk basah (soft root).
4. Penyakit embun tepung (downy mildew).
5. Penyakit rebah semai (dumping off).
6. Busuk daun.
7. busuk Rhizoctonia (bottom root).
8. Bercak daun.
9. Virus mosaik.
PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN.

Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya. Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari. Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun. Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam.

Pasca panen sawi yang perlu diperhatikan adalah :
1. Pencucian dan pembuangan kotoran.
2. Sortasi.
3. Pengemasan.
4. Penympanan.
5. Pengolahan.

Tuesday, November 17, 2009

My Friend

Haloo jumpa lagi nich sama agriman, disini aku mau bagi2 album foto teman kelas ku yang narsiz2 abizz, so jgn kaget ya kalo lihat fotonya!! Heeeeeeee!

I'im N Fuji! So sweet!







Cecep is the bigest!








Udin yang cool!






Jelek angga








Eko & Udin









Reza L.M






Anwar & Sehab...











Syehludinzz


Monday, June 15, 2009

Saka Taruna Bumi






SATUAN KARYA PRAMUKA TARUNABUMI
(SAKA TARUNABUMI)

Satuan Karya Pramuka (Saka) Tarunabumi adalah wadah bagi para Pramuka untuk meningkatkan dan mengembangkan kepemimpinan, pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan kecakapan para anggotanya, sehingga mereka dapat melaksanakan kegiatan nyata dan produktif serta bermanfaat dalam mendukung kegiatan pembangunan pertanian.

Tujuan dibentuknya Saka Tarunabumi adalah untuk mewujudkan kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional di bidang pertanian dengan menyediakan wadah pendidikan luar sekolah di bidang pertanian kepada para Pramuka terutama Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega serta kepada pemuda calon anggota Pramuka dan para peminat yang memenuhi persayaratan.

Kegiatan kesakaan dilaksanakan di gugusdepan dan satuan karya Pramuka disesuaikan dengan usia dan kemampuan jasmani dan rohani peserta didik. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan sedapat-dapatnya dengan praktek berupa kegiatan nyata yang memberi kesempatan peserta didik untuk menerapkan sendiri pengetahuan dan kecakapannya dengan menggunakan perlengkapan yang sesuai dengan keperluannya.

Anggota Saka Tarunabumi adalah :

  • Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega
  • Pamong Saka, Instruktur Saka, Pimpinan Saka dan Mabi Saka
  • Pemuda calon anggota Gerakan Pramuka yang berusia 16-25 tahun.

Syarat menjadi Anggota Saka Tarunabumi :

  • Menyatakan keinginan untuk menjadi anggota Saka Tarunabumi secara suka rela
  • Bagi Pemuda yang belum menjadi anggota Gerakan Pramuka harus dengan sepengetahuan orang tua/walinya, dan bersedia menjadi anggota Gugusdepan Pramuka terdekat.
  • Bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega berusia 16-25 tahun diharapkan menyerahkan izin tertulis dari Pembina Satuan dan Pembina Gugusdepan dan tetap menjadi anggota Gugusdepan.
  • Bagi Pamong Saka mendapat persetujuan dari Pembina Gugusdepan dan telah mengikuti sedikitnya Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar
  • Bagi Instruktur Saka, memiliki pengetahuan, keterampilan dan kecakapan di bidang Pertanian serta bersedia memberikan ilmunya kepada anggota Saka.
  • Sehat jasmani dan rohani serta dengan suka rela sanggup mentaati segala ketentuan yang berlaku di dalam Saka Tarunabumi.
  • Pamong Saka dan Instruktur Saka tetap diangkat dan dilantik oleh Ketua Kwartir Ranting atau Ketua Kwartir cabang yang bersangkutan dengan mengucapkan Tri Satya dan menandatangani Ikrar.

  • Bagi Pimpinan Saka dan Mabi Saka, bersedia memberikan bantuan yang bersifat moril, organisatoris, materiil dan finansiil kepada Saka serta sekurang-kurangnya telah mengikuti Kursus Orientasi Kepramukaan.

  • Pimpinan Saka dan Mabi Saka diangkat dan dilantik oleh Ketua Kwartir yang bersangkutan dengan mengucapkan Tri Satya dan menandatangani Ikrar.

Saka Tarunabumi meliputi 5 (lima) krida, yaitu :

  1. Krida Pertanian dan Tanaman Pangan
  2. Krida Pertanian Tanaman Perkebunan
  3. Krida Perikanan
  4. Krida Peternakan
  5. Krida Pertanian Tanaman Holtikultura.

Krida Pertanian Tanaman Pangan, terdiri atas 6 (enam) SKK :

  1. SKK Petani Padi
  2. SKK Petani Jagung
  3. SKK Petani Kacang Kedelai
  4. SKK Petani kacang Tanah
  5. SKK Petani Ubi Kayu
  6. SKK Petani Ubi Jalar.

Krida Pertanian Tanaman Perkebunan, terdiri atas 11 (sebelas) SKK :

  1. SKK Petani Cengkeh
  2. SKK Petani Kelapa
  3. SKK Petani Karet
  4. SKK Petani Obat-obatan
  5. SKK Petani Kopi
  6. SKK Petani Panili
  7. SKK Petani Coklat
  8. SKK Petani Lada
  9. SKK Petani Kapas
  10. Petani Tembakau
  11. SKK Petani Tebu.

Krida Perikanan, mempunyai 9 (sembilan) SKK :

  1. SKK Petani Ikan Nila
  2. SKK Petani Ikan Mas
  3. SKK Petani Ikan Gurami
  4. SKK Petani Ikan Lele
  5. SKK Petani Katak
  6. SKK Petani Belut
  7. SKK Petani Bandeng
  8. SKK Petani Udang
  9. SKK Petani Ikan Hias.

Krida Peternakan, mempunyai 12 (duabelas) SKK :

  1. SKK Peternak Kerbau
  2. SKK Peternak Sapi
  3. SKK Peternak Kuda
  4. SKK Peternak Sapi Perah
  5. SKK Peternak Kambing
  6. SKK Peternak Babi
  7. SKK Peternak Puyuh
  8. SKK Peternak Kelinci
  9. SKK Peternak Ayam
  10. SKK Peternak Itik
  11. SKK Peternak Lebah
  12. SKK Peternak Merpati.

Krida Pertanian Tanaman Holtikultura, mempunyai 32 (tiga puluh dua) SKK :

  1. SKK Petani Rambutan
  2. SKK Petani Pisang
  3. SKK Petani Mangga
  4. SKK Petani Nanas
  5. SKK Petani Durian
  6. SKK Petani Semangka
  7. SKK Petani Apel
  8. SKK Petani Salak
  9. SKK Petani Pepaya
  10. SKK Petani Jeruk
  11. SKK Petani Anggur
  12. SKK Petani Jambu
  13. SKK Petani Duku
  14. SKK Petani Alpokat
  15. SKK Petani Tomat
  16. SKK Petani Cabe
  17. SKK Petani Bayam
  18. SKK Petani Kangkung
  19. SKK Petani Kacang Panjang
  20. SKK Petani Kubis
  21. SKK Petani Sawi
  22. SKK Petani Wortel
  23. SKK Petani Suplir
  24. SKK Petani Palma
  25. SKK Petani Cemara
  26. SKK Petani Anggrek
  27. SKK Petani Mawar
  28. SKK Petani Melati
  29. SKK Petani Kaktus
  30. SKK Petani Seledri
  31. SKK Petani Bonsai
  32. SKK Petani Bawang Putih/Merah.

Sasaran kegiatan Saka Tarunabumi adalah agar para Pramuka Saka tarunabumi:

  1. Memiliki rasa cinta akan alam pertanian dan rasa tanggungjawab akan kelangsungan jalannya pembangunan nasional.
  2. Memiliki tambahan pengetahuan, pengalaman kecakapan dan keterampilan di bidang pembangunan pertanian serta sikap yang tanggap akan perubahan-perubahan yang selalu terjadi dalam proses kegiatan pembangunan pertanian.
  3. Mampu menyelenggarakan kegiatan-kegiatan Saka Tarunabumi secara positip, berdayaguna dan berhasilguna, sesuai dengan bakat dan minatnya di bidang pertanian, sehingga berguna bagi pribadinya, keluarganya, masyarakat bangsa dan negara.
  4. Mampu menyebarluaskan pengetahuan, pengalaman, kecakapan dan keterampilannya, yang didapat dalam kegiatan Saka kepada anggota Gerakan Pramuka di Gugusdepan masing-masing serta kepada pemuda lainnya yang berada di sekitar tempat tinggalnya.